Pertamina Rampungkan 11 Proyek Kilang Strategis untuk Dongkrak Produksi BBM dan 'Biofuel'
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Kilang Pertamina Internasional (KPI) memperkuat perannya dalam menjaga ketahanan energi nasional melalui penyelesaian 11 proyek kilang strategis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Langkah ini menjadi bagian komitmen perusahaan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih.
Pjs Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, mengatakan peningkatan kapasitas kilang dan efisiensi operasional menjadi prioritas utama perusahaan menghadapi meningkatnya permintaan energi setiap tahun.
“Tantangan kebutuhan energi semakin meningkat setiap tahunnya. Oleh karena itu, Pertamina berupaya meningkatkan kemampuan produksi dengan berbagai strategi,” ujar Milla dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (7/10/2025).
Baca Juga
Pertamina Pastikan 70% Kebutuhan BBM Dipenuhi Produksi Kilang Domestik
Dalam periode 2019–2024, KPI menyelesaikan sedikitnya 11 proyek kilang strategis di lima lokasi utama, yakni Cilacap, Balongan, Balikpapan, Dumai, dan Tuban. Di Kilang Cilacap, KPI menyelesaikan dua proyek besar, yakni Blue Sky Cilacap pada Agustus 2019 dan Green Refinery Cilacap Phase 1 pada Februari 2022. Proyek Blue Sky meningkatkan produksi gasoline RON 92 dari 23.000 barel per hari menjadi 53.000 barel per hari serta mengangkat kualitas BBM dari standar Euro 2 ke Euro 5.
Sementara Green Refinery Cilacap menjadi tonggak penting transisi energi nasional karena mengolah bahan baku nabati, seperti minyak sawit dan minyak jelantah untuk menghasilkan hydrotreated vegetable oil (HVO) dan sustainable aviation fuel (SAF).
“Green Refinery Cilacap menjadi langkah penting KPI dalam menjawab tantangan transisi energi. Dari unit ini, KPI mampu memproduksi bahan bakar nabati yang dikenal sebagai Pertamina RD dan bahan bakar pesawat masa depan Pertamina SAF,” jelas Milla.
Pengembangan Kilang Balongan dan Dumai
Kilang Balongan yang menopang kebutuhan energi wilayah Jabodetabek juga mengalami peningkatan besar. Dua proyek penting onstream pada Mei 2022, yakni Ultra Low Sulfur Diesel (ULSD) dengan kapasitas 15.000 barel per hari dan proyek Revitalisasi Residual Catalytic Cracking (RCC) yang meningkatkan kapasitas produksi dari 63.000 menjadi 83.000 barel per hari.
Selain menghasilkan LPG dan propylene untuk industri petrokimia, Balongan juga meningkatkan efisiensi dengan pemanfaatan gas alam untuk mengurangi emisi karbon.
Baca Juga
Bahlil Pastikan 17 Kilang Minyak Pertamina Masuk Tahap Akhir Studi Kelayakan
Di Kilang Dumai, proyek Platformer 1 yang beroperasi sejak Desember 2022 meningkatkan kualitas bensin dari RON 92 menjadi RON 95, dengan kapasitas produksi mencapai 14 ribu barel per hari.
Kilang TPPI Tuban dan RDMP Balikpapan
Kilang TPPI Tuban menyelesaikan dua proyek besar pada Februari 2024, yakni Revamp OSBL dan ISBL, bagian dari proyek peningkatan fasilitas kilang petrokimia untuk meningkatkan kapasitas produksi paraxylene dan benzene.
Di Balikpapan, KPI menuntaskan tiga proyek strategis sebagai bagian dari Refinery Development Master Plan (RDMP), yaitu Pipa Senipah–Balikpapan, Crude Distillation Unit (CDU) revamp, dan Central Crude Oil Terminal (CCOT) Lawe-Lawe. Ketiga proyek ini memperbesar kapasitas kilang dari 260.000 menjadi 360.000 barel per hari serta meningkatkan kualitas produk setara standar Euro 5.
Milla menjelaskan, proyek Pipa Senipah–Balikpapan berperan penting dalam menyalurkan gas alam sejauh 78 kilometer dengan kapasitas 125 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD). “Proyek ini memastikan pasokan energi bersih bagi kilang, sekaligus memperkuat efisiensi operasional,” ujarnya.
Secara total, 11 proyek strategis tersebut meningkatkan kapasitas pengolahan hingga 125.000 barel per hari, menambah produksi BBM sebesar 3,5 juta kiloliter per tahun, serta menghasilkan Biofuel HVO dan SAF sebanyak 174.000 kiloliter per tahun.
Baca Juga
"Upgrade" Besar! Kilang Balongan Pertamina Punya 4 Tangki Baru
Selain itu, kapasitas produksi petrokimia naik 180.000 ton per tahun, sementara proyek RDMP Balikpapan sendiri menyumbang dampak ekonomi signifikan dengan menyerap 24.000 tenaga kerja, meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hingga 35%, dan memberi kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional senilai Rp 514 triliun. “Proyek-proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur energi, tetapi investasi strategis bagi masa depan ekonomi Indonesia,” kata Milla.
Menjelang akhir 2025, KPI menargetkan pengoperasian unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) terbesar di Indonesia yang akan menjadi lompatan besar dalam peningkatan kualitas dan volume produksi BBM nasional. “Keberhasilan seluruh proyek ini tidak lepas dari dukungan para pemangku kepentingan. KPI akan terus berupaya menjaga ketahanan energi nasional dengan memperkuat kapasitas produksi dan komitmen terhadap energi bersih,” pungkas Milla.

