Kementan Genjot Mekanisasi dan Cetak Sawah 4 Juta Hektare Demi Swasembada Pangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan, langkah percepatan menuju swasembada pangan tidak bisa ditunda lagi. Salah satu strategi jangka pendek yang menjadi fokus adalah pemberian insentif untuk mekanisasi pertanian, di tengah semakin berkurangnya jumlah petani dan sempitnya lahan.
“Supaya swasembada pangan ini dapat tercapai, salah satunya dalam jangka pendek, adalah insentif terkait dengan mekanisasi. Ini tidak bisa ditawar, sekarang jumlah petani semakin sedikit, kemudian lahannya juga kecil-kecil,” ujar Dirjen Tanaman Pangan Kementan Yudi Sastro, dalam diskusi publik yang digelar Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Jumat (17/10/2025).
Ia menjelaskan, transformasi sektor pertanian menuju arah korporasi dan industrialisasi menjadi keharusan untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
“Kalau petaninya gurem, 0,3 (hektare) rata-rata misalnya kepemilikan lahan, kalau tidak dibuat ke arah korporasi ini juga akan sulit kita mempertahankan swasembada, terutama beras secara berkelanjutan,” kata Yudi.
Untuk jangka panjang, Kementan juga menyiapkan program cetak sawah baru seluas 4 juta hektare dalam empat tahun ke depan. Dari total itu, 1 juta hektare akan berlokasi di Merauke, sementara 3 juta hektare lainnya tersebar di 12 provinsi.
“Sekarang dua tahun ini kita lakukan, tahun 2025 target 250.000 hektare sedang progres dan mudah-mudahan selesai konstruksi di tahun ini. Kemudian kita targetkan akan terus meningkat di tahun-tahun berikutnya. Mudah-mudahan ini tidak menemui banyak hambatan,” ucap Yudi.
Menurutnya, perluasan lahan ini penting di tengah realitas lahan sawah di Pulau Jawa yang semakin berkurang, sementara produktivitas tidak mengalami peningkatan yang signifikan.
Selain itu, Kementan juga mendorong penerapan smart farming dan precision farming untuk meningkatkan efisiensi hasil panen. Yudi mengatakan, pendekatan digital dan data berbasis teknologi mutlak dilakukan.
“Strategi ke depan memang kami sudah mendiskusikan smart farming, precision farming itu mutlak. Kemudian penyuluh pertanian sudah kita tarik ke pusat, karena di daerah kurang perhatiannya sedangkan itu adalah kepentingan pusat,” ujar Yudi.

