Kadin dan US-ASEAN Business Council Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia–AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama US-ASEAN Business Council (USABC) menggelar pertemuan di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (16/10/2025). Pertemuan ini membahas peluang kerja sama strategis di bidang perdagangan, investasi, dan pengembangan ekosistem kedirgantaraan, teknologi, hingga kesehatan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS).
Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde menegaskan komitmen Boeing untuk terus memperkuat kerja sama jangka panjang dengan Indonesia yang telah terjalin lebih dari tujuh dekade. Ia menyebut, dalam 20 tahun ke depan Indonesia diproyeksikan membutuhkan sekitar 1.500 pesawat baru untuk mendukung pertumbuhan pasar penerbangan nasional.
“Hal ini berarti perlunya pembangunan ekosistem kedirgantaraan yang kuat, termasuk infrastruktur dan kegiatan perawatan, perbaikan, serta overhaul (MRO),” katanya.
Boeing juga berencana memperluas kerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang telah memproduksi komponen untuk pesawat tipe 737, 767, dan 777.
Indra menambahkan, Boeing ingin memperkuat kemitraan dengan Kadin, termasuk dalam bidang pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), rantai pasok, dan pengembangan fasilitas perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO) di Indonesia. “Dari perspektif Boeing, kami ingin mempererat kemitraan dengan Kadin. Kami juga sedang dalam proses untuk menjadi anggota, jika memungkinkan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya N Bakrie menyampaikan, Kadin melalui Global Engagement Office (GEO) berupaya memperluas kerja sama global dengan mitra internasional. Ia menjelaskan, Kadin GEO dibentuk untuk menyinergikan diplomasi ekonomi pemerintah dan sektor swasta, sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang aktif menjalin hubungan internasional.
“Dalam setahun terakhir, Presiden telah melakukan 40 kunjungan luar negeri dan menerima 40 tamu internasional di dalam negeri. Kadin terlibat dalam sepertiga di antaranya,” kata Anindya.
Menurutnya, kehadiran GEO bertujuan agar setiap misi dagang Indonesia ke luar negeri memiliki narasi konsisten mengenai perdagangan dan investasi. Anindya juga mendorong pelaku usaha Amerika, termasuk Boeing, untuk mendukung program magang nasional yang dijalankan pemerintah Indonesia. Program tersebut menargetkan 100.000 peserta, dengan upah ditanggung pemerintah.
Selain sektor aviasi, diskusi juga menyinggung peran Kadin GEO dalam mendukung partisipasi sektor swasta dalam berbagai perjanjian perdagangan, seperti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dan Free Trade Agreement (FTA).
Baca Juga
Bahas Kesepakatan Jumbo dengan Boeing, Garuda Indonesia (GIAA) Siap Tambah Armada
CEO Kadin Indonesia Institute, Mulya Amri menjelaskan, lembaga tersebut berperan sebagai think tank resmi Kadin dengan tiga fokus utama, mulai pelatihan dan peningkatan kapasitas, riset, serta pengelolaan data. Adapun program-program kerjanya diperuntukkan menggenjot pertumbuhan ekonomi 8% dan mengurangi kemiskinan ekstrem. “Kami juga bekerja sama dengan MIT Observatory of Economic Complexity untuk menyediakan data peluang ekspor-impor di tingkat provinsi,” papar Mulya.
Presiden dan CEO US-ASEAN Business Council, Duta Besar Ted Osius menyampaikan apresiasi terhadap kemitraan erat dengan Kadin Indonesia. Menurutnya, kedua pihak harus menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat kolaborasi sektor swasta dan advokasi kebijakan kepada pemerintah Presiden Prabowo Subianto.
“Salah satunya, yang benar-benar menyentuh saya sebagai orang Amerika, adalah Indonesia punya banyak pilihan. Indonesia sudah menjalin kesepakatan dengan Kanada, bekerja sama dengan BRICS, dan juga dengan Uni Eropa. Jadi, kita juga perlu bergerak cepat,” terangnya.
Dari sektor teknologi, perwakilan Salesforce mengungkapkan minat untuk bermitra dengan Kadin dalam pengembangan regulasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Menanggapi hal itu, Anindya menilai perusahaan perangkat lunak, seperti Salesforce dapat berperan dalam digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Sebagian besar pelaku ekonomi kita masih berskala mikro. Digitalisasi dapat membantu mereka naik kelas dan memperkuat struktur ekonomi nasional,” kata Anindya.
Baca Juga
Ketua Komite Tetap Asia Pasifik Kadin, Yohanes Lukiman, menutup pertemuan dengan menekankan bahwa kerja sama bisnis antara perusahaan Indonesia dan Amerika dapat dijalankan segera. “Selain pembahasan kebijakan, Kadin juga siap memfasilitasi kerja sama konkret antar perusahaan melalui layanan Business Support Desk,” ungkapnya.
Pertemuan tersebut menjadi langkah lanjutan dalam memperkuat hubungan ekonomi Indonesia-AS, khususnya di bidang perdagangan, investasi, dan pengembangan industri strategis seperti kedirgantaraan dan teknologi digital.
US-ASEAN Business Council merupakan organisasi nirlaba yang didirikan pada 1984 untuk memperkuat hubungan perdagangan dan investasi antara AS dan negara-negara Asia Tenggara. Organisasi ini berperan sebagai jembatan antara sektor swasta Amerika dan pemerintah di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia.
USABC memiliki fungsi utama dalam advokasi kebijakan, fasilitasi perdagangan dan investasi, riset ekonomi, serta pendidikan teknis bagi perusahaan anggotanya. Melalui berbagai kegiatan diplomasi ekonomi dan dialog kebijakan, lembaga ini turut mendorong peningkatan kerja sama bisnis lintas negara. Kantor perwakilannya juga tersebar di beberapa kota di Asia Tenggara dan AS, termasuk di Jakarta.
Keanggotaan USABC mencakup sejumlah perusahaan besar dari berbagai sektor, mulai dari teknologi, keuangan, energi, hingga industri manufaktur. Beberapa di antaranya adalah Abbott, AIG, Boeing, British Petroleum (bp), Chubb, Citi, ExxonMobil, GE Healthcare, Google, IBM, Microsoft, Procter & Gamble (P&G), Salesforce, Visa, hingga Mastercard.
Keterlibatan perusahaan-perusahaan tersebut mencerminkan komitmen sektor swasta Amerika untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan kawasan ASEAN. Melalui wadah USABC, mereka berperan aktif dalam mendukung kebijakan yang menciptakan iklim investasi yang lebih terbuka, berkelanjutan, dan saling menguntungkan bagi kedua pihak.

