Boeing Ramal Asia Tenggara Butuh Hampir 5.000 Pesawat Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — PT Boeing Indonesia memproyeksikan Asia Tenggara membutuhkan 4.885 pesawat baru dalam 20 tahun mendatang, seiring dengan pertumbuhan lalu lintas penerbangan regional maupun internasional.
Managing Director Asia-Pacific (APAC) Marketing Boeing, Dave Schulte mengatakan, lalu lintas penerbangan dari dan menuju Asia, termasuk penerbangan internasional regional, diperkirakan tumbuh sekitar 6% per tahun. Sementara lalu lintas penerbangan dalam kawasan Asia Tenggara diproyeksikan naik hampir 9% per tahun, dan penerbangan internasional jarak jauh diperkirakan tumbuh lebih dari 4% per tahun.
“Dengan tren pertumbuhan jangka panjang tersebut, proyeksi kami untuk pasar Asia Tenggara dalam 20 tahun mendatang adalah kebutuhan 4.885 pesawat baru di wilayah-wilayah tersebut,” kata Dave dalam konferensi pers di Kantor Boeing Indonesia, Jakarta, Rabu (27/8/2025).
Ia menjelaskan, sekitar 80% dari total kebutuhan tersebut akan berasal dari pesawat berbadan sempit (narrow body), dengan hampir 4.000 unit berukuran setara tipe 737. Sementara, 20% unit lainnya berasal dari kategori pesawat berbadan lebar (wide body).
Selain itu, Boeing juga memproyeksikan pertumbuhan kebutuhan pesawat kargo di Asia Tenggara sebanyak 150 unit dalam 20 tahun mendatang, yang mencakup pesawat kargo produksi baru maupun pesawat konversi.
Di sisi lain, Dave menyebutkan, Indonesia membutuhkan setidaknya 600 pesawat baru dalam jangka pendek untuk mendorong sektor penerbangan dan mendukung pertbumuhan ekonomi 7% seperti yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, proyeksi pertumbuhan jangka panjang di kawasan Asia Tenggara ditopang tiga indikator utama, yakni pertumbuhan ekonomi, lalu lintas penumpang, dan penambahan armada pesawat.
Tak hanya itu, lanjut Dave, ekonomi kawasan juga diperkirakan bertumbuh lebih 5% per tahun. Sementara lalu lintas penumpang diprediksi meningkat 7% per tahun dalam 20 tahun mendatang, salah satu yang tertinggi di dunia. “Pertumbuhan armada tahunan (Asia Tenggara) diproyeksikan naik lebih 6,5% setiap tahun dalam 20 tahun ke depan,” imbuh dia.
Dave menambahkan, jumlah kursi keberangkatan per kapita dari Indonesia saat ini tercatat 0,4 kursi, lebih rendah dari rata-rata Asia Tenggara sebesar 0,65 kursi per kapita. Sementara Thailand (1,18 kursi per kapita), Vietnam (0,65 kursi per kapita), dan Singapura tercatat lebih tinggi sekitar 6,97 kursi per kapita.
“Jika kita melihat data demografi dan angka-angka ini, apabila Indonesia dapat meningkatkan jumlah kursi per kapita hingga mencapai rata-rata Asia Tenggara, hal itu berarti kebutuhan sekitar 600 pesawat baru yang harus masuk ke Indonesia dalam jangka waktu dekat,” jelas dia.

