Emas Tembus US$ 4.200 karena Dolar Loyo dan Dunia Gonjang-ganjing, Siap ke US$ 5.000?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas kembali mencetak sejarah. Untuk pertama kalinya, logam mulia itu menembus level US$ 4.200 per ons pada Rabu (16/10/2025), memperpanjang reli yang sudah berlangsung sejak awal tahun.
Sentimen positif terhadap emas didorong meningkatnya ekspektasi pemotongan suku bunga oleh bank sentral utama dunia serta meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong investor memburu aset safe haven ini.
Harga emas spot naik 1,3% menjadi US$ 4.193,39 per ons, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi US$ 4.217,95 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Desember naik 1% ke US$ 4.203,7.
Baca Juga
Menurut analis pasar di City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, reli harga emas kali ini masih jauh dari kata selesai. “Logam ini sedang naik daun, dan tampaknya tidak ingin berhenti. Dengan meningkatnya kembali ketegangan perdagangan AS–Tiongkok, investor memiliki lebih banyak alasan untuk melindungi nilai saham jangka panjang mereka dengan melakukan diversifikasi ke emas,” ujar dia dikutip CNBC.
Harga emas telah melonjak hampir 58% sepanjang 2025, didorong kombinasi faktor yang kuat, yakni ketegangan geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga, pembelian besar-besaran oleh bank sentral, tren de-dolarisasi, serta arus masuk dana ke produk investasi berbasis emas seperti ETF (Exchange Traded Fund).
Razaqzada menilai, target harga US$ 5.000 per ons kini bukan lagi sesuatu yang mustahil. “Dengan level itu hanya berjarak sekitar US$ 800, saya tidak akan bertaruh bahwa emas tidak akan mencapainya. Koreksi jangka pendek bisa saja menggoyahkan investor jangka pendek, tapi justru akan menarik pembeli baru,” jelasnya.
Kenaikan harga emas juga diperkuat pelemahan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama dunia. Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Selasa (15/10/2025) menegaskan bahwa pasar tenaga kerja AS masih mengalami “kelesuan” akibat rendahnya perekrutan dan pemecatan. Nada dovish Powell tersebut memperkuat keyakinan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Para pelaku pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober dengan probabilitas 98%, disusul oleh penurunan lanjutan pada Desember dengan peluang hampir pasti, yakni 100%.
Dalam lingkungan suku bunga rendah, emas—yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset)—menjadi semakin menarik sebagai alternatif investasi dan pelindung nilai terhadap inflasi.
Baca Juga
'Enggak' Nyangka! Emas Antam (ANTM) Sekarang Sudah Rp 2,36 Juta per Gram
Ketegangan AS–China dan Risiko Global
Selain faktor moneter, sentimen geopolitik juga turut memanaskan pasar logam mulia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington tengah mempertimbangkan pemutusan beberapa hubungan dagang dengan China, setelah kedua negara saling memberlakukan biaya pelabuhan baru dalam beberapa hari terakhir.
Tidak hanya emas, harga perak juga naik 1,7% menjadi US$ 52,31 per ons, mendekati rekor tertingginya di US$ 53,6 pada Selasa (15/10/2025). Kenaikan perak didorong oleh pasokan yang ketat di pasar London dan tingginya biaya sewa logam.
Namun, Michael Brown, ahli strategi senior di Pepperstone, mengingatkan bahwa lonjakan harga perak bisa berbalik cepat jika kondisi pasokan mulai longgar. Sementara itu, platinum naik 0,4% ke US$ 1.644,80 per ons, sedangkan paladium melemah 0,7% menjadi US$ 1.514,25 per ons.

