Dolar AS Loyo, Emas Makin Bersinar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas menguat pada Selasa (16/12/2025) setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan tingkat pengangguran meningkat dibandingkan September. Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS, The Fed akan kembali memangkas suku bunga, sehingga menekan nilai dolar dan mendorong minat terhadap aset lindung nilai.
Harga emas spot naik 0,2% menjadi US$ 4.310,21 per ons pada pukul 13:48 ET atau 18:48 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS tercatat turun tipis 0,1% ke level US$ 4.332,3 per ons.
Pelemahan dolar AS ke posisi terendah dalam dua bulan membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih terjangkau bagi pembeli luar negeri. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun juga bergerak turun, menambah daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
“Data tersebut memberi The Fed lebih banyak alasan untuk memangkas suku bunga, dan jika mereka memangkas suku bunga, itu akan berdampak positif bagi emas,” kata ahli strategi pasar senior di RJO Futures, Bob Haberkorn, dilansir CNBC.
Baca Juga
Emas Dominasi Aset 'Safe Haven' 2025, Rasio Bitcoin terhadap Emas Anjlok 50%
Pertumbuhan lapangan kerja di AS memang menunjukkan pemulihan pada November, tetapi tingkat pengangguran naik ke 4,6% di tengah ketidakpastian ekonomi akibat kebijakan perdagangan agresif Presiden Donald Trump. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan survei Reuters terhadap para ekonom yang memproyeksikan tingkat pengangguran sebesar 4,4%.
Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) pekan lalu, mengumumkan penurunan suku bunga sebesar seperempat poin. Pernyataan yang disampaikan Ketua Federal Reserve Jerome Powell setelah keputusan tersebut dinilai pasar kurang agresif dibandingkan ekspektasi sebelumnya.
Kontrak berjangka suku bunga AS masih mencerminkan ekspektasi dua kali pemangkasan masing-masing 25 basis poin pada 2026, dengan total pelonggaran diperkirakan mencapai 59 basis poin. Dalam kondisi suku bunga rendah, emas yang tidak menawarkan imbal hasil cenderung mencatat kinerja lebih baik.
Pelaku pasar kini menanti rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk November yang dijadwalkan pada Kamis (18/12/2025), serta Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi pada Jumat (19/12/2025), yang akan menjadi petunjuk lanjutan arah kebijakan moneter The Fed.
Baca Juga
Data Ketenagakerjaan AS Dorong Penguatan Harga Emas, Ini Target Harganya di 2026
Chief Operating Officer Allegiance Gold, Alex Ebkarian, mengatakan apabila harga emas mampu menutup 2025 di atas US$ 4.400 per ons, maka harga logam mulia tersebut berpotensi menembus kisaran US$ 4.859 hingga US$ 5.590 pada 2026. Ia juga menilai harga perak berpeluang kembali menguji level US$ 50 per ons tahun depan.
Di pasar logam lainnya, harga perak turun 0,3% menjadi US$ 63,75 per ons, turun dari rekor tertinggi US$ 64,65 yang dicapai pada Jumat lalu. Harga platinum melonjak 4% ke level US$ 1.854,95 per ons, tertinggi sejak September 2011, sementara paladium menguat 2,5% menjadi US$ 1.606,41 per ons, tertinggi dalam dua bulan.

