Harga Emas Naik Gila-gilaan, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia kembali mencetak rekor baru di atas US$ 4.100 per ons pada Selasa (14/10/2025), didorong meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dan lonjakan permintaan terhadap aset aman di tengah ketegangan perdagangan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.
Harga emas spot naik 0,4% menjadi US$ 4.126,47 per ons setelah sempat menyentuh rekor tertinggi US$ 4.179,48 di awal sesi. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember menguat 0,2% ke US$ 4.142,60.
Kenaikan ini memperpanjang reli tajam emas tahun ini, dengan lonjakan sekitar 57% sepanjang 2025, dan menjadi pertama kalinya logam mulia ini menembus level psikologis US$ 4.100.
Baca Juga
Bahlil Ungkap Insiden Tambang Freeport Ganggu Pasokan Emas Antam (ANTM)
Lonjakan harga emas kali ini tidak hanya dipicu prospek pelonggaran kebijakan moneter The Fed, tetapi juga akibat meningkatnya ketegangan dagang antara Washington dan Beijing. Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif 100% terhadap barang-barang asal Tiongkok, sementara pemerintah Beijing merespons dengan biaya pelabuhan timbal balik serta pembatasan ekspor tanah jarang, bahan penting untuk industri teknologi.
“Ketegangan perdagangan AS–Tiongkok, penutupan pemerintahan yang masih berlangsung, dan ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed semuanya mendukung kenaikan emas,” kata Wakil Presiden sekaligus ahli strategi logam senior di Zaner Metals, Peter Grant dilansir CNBC.
Grant menilai kombinasi faktor geopolitik dan tren dedolarisasi global berpotensi mendorong harga emas ke US$ 5.000 per ons pada pertengahan tahun depan, sejalan dengan proyeksi dari Bank of America dan Societe Generale yang memprediksi level serupa pada 2026.
The Fed Jadi Katalis Selanjutnya
Investor kini menanti pidato Ketua The Fed Jerome Powell pada pertemuan tahunan National Association for Business Economics (NABE) malam ini untuk mendapatkan petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya. Pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan ini, yang kemungkinan diikuti dengan langkah serupa pada Desember.
Emas yang tidak memberikan imbal hasil biasanya berkinerja lebih baik dalam kondisi suku bunga rendah karena biaya peluang untuk menahan aset non-yielding tersebut menjadi lebih kecil.
Baca Juga
Selain emas, perak spot juga melonjak mencapai rekor US$ 53,60 per ons sebelum terkoreksi 2,9% ke US$ 50,81, sementara platinum turun 1,5% ke US$ 1.621,50 dan paladium melemah 0,7% menjadi US$ 1.464,42.
“Penurunan harga perak mencerminkan pasar yang terlalu panas, tetapi tren jangka menengah masih positif jika reli emas berlanjut,” tulis analis Commerzbank dalam risetnya.
Reli emas tahun ini juga diperkuat oleh pembelian besar-besaran oleh bank sentral dunia dan aliran masuk dana ke Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas.

