Bagikan

​CPOPC Ungkap Pembiayaan dan Insentif Jadi Kunci Keberlanjutan Industri Sawit

Poin Penting

Pembiayaan dan insentif sebagai kunci keberlanjutan.
Sinergi lintas sektor dan penguatan kapasitas petani.
Harmonisasi regulasi dan diplomasi internasional.

JAKARTA, investortrust.id - Wakil Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOC) Musdhalifah Machmud menyatakan, pembiayaan dan insentif merupakan kunci utama dalam menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit di tengah meningkatnya tantangan global. 

Menurutnya, tanpa dukungan finansial yang memadai, terutama bagi petani kecil, upaya memenuhi berbagai standar keberlanjutan internasional akan sulit untuk dilakukan. 

“Terkait pembiayaan dan insentif saya pikir ini penting banget, karena dukungan pembiayaan, microfinance, skema carbon credit, semuanya bisa menjadi salah satu upaya yang perlu kita kembangkan di kemudian hari, sustainability linked loans perlu diperluas,” ujarnya, secara daring, dalam diskusi Indef ‘Memperkuat Daya Saing Petani Kecil dalam Kerangka EUDR untuk Sawit Berkelanjutan,” Selasa (14/10/2025). 

Baca Juga

​Indef: Petani Sawit Butuh Dukungan Pembiayaan dan Pelatihan untuk Penuhi Standar EUDR

Menurut Musdhalifah, berbagai peluang ke depan harus difokuskan pada langkah konkret yang dapat memperkuat ketahanan dan keberlanjutan industri. “Kita tidak perlu berbicara yang lama, tetapi ke depan ini apa yang harus kita lakukan, dan salah satu yang paling penting ini adalah pembiayaan dan insentif,” sambungnya. 

Ia juga menekankan perlunya keterlibatan berbagai pihak, termasuk sektor perbankan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan swasta, dalam pendampingan petani serta pemberian insentif bersama. Sebab, sinergi lintas sektor menjadi kunci agar implementasi kebijakan keberlanjutan dapat berjalan efektif di lapangan. 

Lebih lanjut, Musdhalifah menyoroti pentingnya harmonisasi regulasi antara Inisiatif untuk Deforestasi dan Degradasi Hutan (IUDA) dan standar nasional seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Ia menilai diplomasi dan komunikasi yang konsisten diperlukan agar posisi Indonesia dalam tata kelola sawit global semakin kuat. 

“Harmonisasi regulasi antara IUDA dan standar nasional seperti ISPO perlu kita terus komunikasikan, karena ini diplomasi, komunikasi, dan penjelasan-penjelasan yang logis ini perlu kita bangun, narasi-narasi yang sangat baik ini perlu kita bangun terus untuk menyampaikan nasional dashboard IUDA dan ISPO,” katanya. 

Baca Juga

Indef Sebut 5 Strategi Ini Bisa Perkuat Daya Saing Petani Kecil Sawit

Musdhalifah mendorong agar petani kecil mendapatkan pengecualian bersyarat dalam penerapan IUDA, sebagaimana yang berlaku bagi sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Selain itu, penguatan kapasitas lembaga petani seperti koperasi dan kolam data juga dinilai penting untuk meningkatkan akses terhadap pembiayaan dan pemasaran. 

“Dialog bilateral dan koregional, misalnya dengan Asean maupun China untuk menjembatani perbedaan-perbedaan standar keberlanjutan yang terbangun, dan yang sekarang mulai dibangun di China, India, dan negara-negara lain,” ucap Musdhalifah. 

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024