ITDP Ungkap Manfaat Ekonomi dari Elektrifikasi Bus di Kota-Kota Besar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) mengungkap potensi manfaat ekonomi dari program elektrifikasi transportasi publik, terutama bus. Di kota-kota besar, elektrifikasi transportasi publik menghasilkanrasio manfaat berbanding biaya (benefit cost rasio/BCR) hingga 2,4. Artinya, setiap Rp 1 biaya menghasilkan Rp 2,4 manfaat ekonomi dan sosial.
ITDP membeberkan hal itu dalam sesi tematik “Memaksimalkan Manfaat Ekonomi dan Sosial dari Transisi Kendaraan Listrik” yang digelar dalam rangkaian Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu (11/10/2025).
Menurut Direktur Asia Tenggara ITDP, Gonggomtua Sitanggang, elektrifikasi bus dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar melalui efisiensi biaya operasional hingga 30% dan potensi pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) dibanding bus berbahan bakar fosil.
Baca Juga
Kendaraan Listrik Jadi Solusi Hemat Subsidi Energi dan Pencipta Lapangan Kerja
“Penghematan ini memungkinkan kota memperluas cakupan rute dan menambah jumlah armada, yang akhirnya menurunkan biaya transportasi masyarakat. Namun, manfaat ini hanya tercapai jika ada komitmen kuat pemerintah, insentif yang tepat, dan didukung regulasi yang menekan biaya pengadaan kendaraan,” ujar dia.
Gonggomtua menjelaskan, elektrifikasi transportasi publik di kota-kota besar, seperti Jakarta, dapat menghasilkan BCR 2,4. “Jadi, setiap Rp 1 biaya menghasilkan Rp 2,4 manfaat ekonomi dan social, dari penghematan energi dan biaya perawatan, hingga peningkatan kualitas udara dan kesehatan publik," tutur dia.
Sementara itu, Sekjen Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), R Hanggoro Ananta menegaskan, keberhasilan transisi kendaraan listrik akan menciptakan efek berganda terhadap industri nasional dan penyerapan tenaga kerja.
“Transisi kendaraan listrik bukan hanya langkah menuju nol emisi, tetapi jalan menuju ekonomi hijau yang memperkuat kemandirian bangsa dan membuka lapangan kerja berkualitas,” tegas dia.
Untuk mencapai hal itu, kata Hanggoro, Indonesia perlu memperkuat rantai pasok lokal, mengembangkan riset teknologi baterai, dan mengintegrasikan energi terbarukan agar industri ini tumbuh dari inovasi dalam negeri, bukan dari ketergantungan pada impor.
Aismoli menaungi lebih dari 57 perusahan aktif yang mencakup manufaktur, komponen, hingga konversi sepeda motor listrik. Dengan ekosistem yang terus tumbuh, industri motor listrik nasional diproyeksikan menciptakan sekitar 150 ribu teknisi dan tenaga kerja baru pada 2030, seiring meningkatnya kapasitas produksi dan adopsi kendaraan listrik nasional.
Hanggoro Ananta mengungkapkan, percepatan transisi kendaraan listrik tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan sinergi lintas sektor antara pemerintah, lembaga riset, pelaku industri, lembaga keuangan, dan Masyarakat. “Sinergi diperlukan untuk memastikan kebijakan, investasi, dan inovasi bergerak searah menuju target emisi nol bersih," tutur dia.
Baca Juga
Dari sisi fiskal, menurut Hanggoro, transisi kendaraan listrik berpotensi mengurangi beban subsidi bahan bakar fosil dan menata ulang struktur insentif agar lebih efisien dari sisi publik, menekan biaya mobilitas, dan meningkatkan kualitas udara perkotaan.
“Dari sisi industri, transisi akan menciptakan rantai pasok baru serta ratusan ribu lapangan kerja hijau yang memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” ujar dia.
Dia menambahkan, elektrifikasi transportasi mencerminkan pergeseran paradigma pembangunan, dari ekonomi berbasis konsumsi energi menuju ekonomi berbasis inovasi dan keberlanjutan.
“IISF 2025 menjadi ruang bagi kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa transisi energi Indonesia bukan hanya lebih bersih, tetapi juga lebih adil, mandiri, dan menyejahterakan,” ucap dia.

