Kuasa Hukum Ira Puspa Dewi Bantah Tudingan Akuisisi PT Jembatan Nusantara Rugikan Negara
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Kuasa hukum mantan Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Ira Puspa Dewi, Gunadi SH, membantah tudingan jaksa penuntut umum (JPU) yang menyebut akuisisi PT Jembatan Nusantara (PT JN) telah menimbulkan kerugian negara sebesar Rp1,253 triliun.
Dalam pernyataan tertulis yang diterima Kamis (9/10/2025), Gunadi menegaskan bahwa seluruh proses akuisisi telah dilakukan sesuai prosedur, dengan dasar hukum dan penilaian aset yang sah, serta terbukti membawa kinerja positif bagi kedua perusahaan.
Gunadi menyampaikan bahwa tudingan jaksa mengenai kondisi PT JN yang disebut buruk saat diakuisisi tidak sesuai dengan fakta persidangan. Ia mengutip keterangan Direktur Harry MAC yang menyebut bahwa sebelum akuisisi, PT JN masih mencatatkan keuntungan. “Laba 2020 sebesar Rp5 miliar, dan laba 2021 naik menjadi Rp9 miliar,” ujarnya. Hal ini membantah klaim jaksa bahwa keuangan PT JN terus menurun dan tidak layak diambil alih oleh ASDP.
Sengketa lain yang juga disorot adalah perbedaan penilaian aset PT JN. Jaksa menyebut nilai aset hanya Rp512 miliar, namun versi lembaga penilai independen menunjukkan hasil berbeda. Berdasarkan penilaian Mandiri Sekuritas tahun 2015, nilai PT JN mencapai Rp1,5 triliun, penilaian yang dilakukan setelah Menteri BUMN mengeluarkan izin prinsip akuisisi pada 28 Januari 2015. Izin prinsip tersebut juga diperbarui kembali pada 2022. Konsultan MBPRU pada tahun yang sama menaksir nilai aset 53 kapal PT JN mencapai Rp2,09 triliun—belum termasuk aset lainnya.
Sedangkan konsultan SRR dan SMI memberikan valuasi sebesar Rp1,341 triliun. Akhirnya, kesepakatan akuisisi ditetapkan senilai Rp1,272 triliun. Perbedaan nilai tersebut, menurut Gunadi, wajar terjadi karena perbedaan metode valuasi. “Jaksa mengabaikan metode valuasi pendapatan dan hanya menggunakan pendekatan scrapped, yang tentu menghasilkan nilai jauh lebih rendah,” jelasnya.
Baca Juga
Kasus Korupsi ASDP, KPK Sita 23 Tanah dan Bangunan Senilai Rp 1,2 Triliun
Menanggapi tudingan jaksa bahwa kondisi PT JN memburuk setelah diakuisisi karena kapal-kapal tua dan biaya perawatan tinggi, Gunadi justru menegaskan bahwa kinerja PT JN meningkat signifikan. Berdasarkan data, dalam periode 2021 hingga 2024, pendapatan PT JN tumbuh dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 28%, dari Rp532 miliar pada 2022 menjadi Rp668 miliar pada 2024.
“Kinerja keuangan PT JN terus membaik, bahkan utangnya turun drastis dari Rp571 miliar menjadi hanya Rp187 miliar,” jelas Gunadi. Ia menambahkan bahwa pendapatan rata-rata kapal PT JN pada 2024 mencapai Rp12,28 miliar dengan pertumbuhan CAGR 18% sejak 2021, menunjukkan efisiensi dan peningkatan produktivitas yang signifikan.
Terkait tudingan jaksa bahwa kapal PT JN sudah tua dan tidak layak dioperasikan, kuasa hukum Ira Puspa Dewi menolak mentah-mentah anggapan tersebut. Berdasarkan keterangan dari Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), kelayakan kapal tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh sertifikasi laik laut yang dimiliki. Berdasarkan data BKI dan Kementerian Perhubungan tahun 2022, rata-rata umur kapal ASDP adalah 19,9 tahun, sementara PT JN memiliki rata-rata usia kapal 33,4 tahun—yang justru lebih muda dibanding dua operator kapal lainnya, yakni DLU dan Jemla. “Artinya, kapal tua tidak otomatis tidak laik laut, selama memenuhi persyaratan teknis dan bersertifikat,” tegas Gunadi.
Dari sisi kinerja keuangan, data menunjukkan bahwa baik ASDP maupun PT JN sama-sama mencatatkan pertumbuhan positif dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2021, pendapatan PT ASDP tercatat sebesar Rp2,219 triliun, dan dua tahun kemudian meningkat pesat menjadi Rp3,298 triliun pada 2023, atau tumbuh sekitar 48,6%. Peningkatan tersebut juga diikuti dengan capaian laba terbesar sepanjang sejarah perusahaan, yakni Rp637 miliar pada 2023. Kinerja impresif ini menunjukkan efektivitas strategi ekspansi dan optimalisasi aset yang dijalankan ASDP pascapandemi.
Sementara itu, PT Jembatan Nusantara juga terus memperlihatkan perbaikan kinerja. Pendapatan yang tercatat sebesar Rp532 miliar pada 2022 naik menjadi Rp668 miliar pada 2024, atau tumbuh sekitar 25,6%. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan volume penumpang, efisiensi operasional, dan peningkatan kualitas layanan di lintasan penyeberangan.

