Bahlil Ungkap Devisa Negara Terbang Rp 776 Triliun per Tahun Imbas Impor Minyak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, devisa negara terbang sebesar Rp 776 triliun per tahunnya dikarenakan impor minyak yang masih tinggi.
Bahlil memaparkan bahwa produksi minyak siap jual atau lifting dalam negeri hanya sekitar 580.000 barrel oil per day (BOPD). Sedangkan konsumsi per hari mencapai 1,6 juta barel. Untuk menambal kebutuhan itu, Indonesia harus mengimpor BBM sekitar 1 juta BOPD.
“Produksi dalam negeri kita itu kurang lebih sekitar 212 juta barel, dan impor kita tadi saya sampaikan bahwa kurang lebih sekitar 900.000 sampai 1 juta BOPD. Di situlah devisa kita hilang setiap tahun kurang lebih sekitar Rp 776 triliun,” kata Bahlil dalam acara di Jakarta International Convention Center, Kamis (9/10/2025).
Disampaikan Bahlil, kondisi inilah yang kemudian mendorong Presiden Prabowo Subianto menargetkan kemandirian energi di dalam Asta Citanya. Sebab, Indonesia tidak bisa terus-menerus mengimpor energi dan bergantung pada negara lain.
Baca Juga
Soal Potensi Impor Minyak dari Rusia, Pertamina: Kita Terbuka ke Berbagai Pihak
“Agar apa? Seluruh kebutuhan dalam negeri kita, bisa kita penuhi. Dan uang kita tidak perlu keluar ke luar negeri. Ini juga bagian salah satu instrumen untuk memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar," ucap mantan Menteri Investasi tersebut.
Adapun upaya yang sedang dilakukan pemerintah demi memenuhi kebutuhan dalam negeri adalah dengan mengoptimalkan sumur minyak yang ada. Bahlil mencatat setidaknya terdapat 40.000 sumur minyak di Indonesia, yang mana sebanyak 14.000 di antaranya telah terverifikasi.
"Kita harus intervensi dengan teknologi. Dengan EOR, salah satu antara teknologi yang menjadi pilihan. Yang kedua adalah sumur-sumur atau wilayah-wilayah kerja yang sudah selesai dieksplorasi, yang sudah POD ada sekitar 300 lebih, itu harus segera dieksekusi," ujar Bahlil.

