Kadin Usulkan Impor Gas untuk Industri Manufaktur, Kementerian ESDM: Belum Jadi Prioritas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menanggapi usulan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Saleh Husin, yang meminta pemerintah membuka keran impor gas bumi khusus untuk industri manufaktur jika pasokan dalam negeri terbatas.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menegaskan bahwa kebijakan pemerintah saat ini masih fokus pada upaya menjaga ketahanan energi nasional. Oleh karena itu, impor gas bumi untuk kebutuhan industri belum menjadi prioritas.
Baca Juga
Kadin: Pasokan Gas untuk Manufaktur Baru 60%, Daya Saing Industri Makin Terjepit
“Namun pada saat ini kebijakan pemerintah memandang ketahanan energi, jadi sedapat mungkin kita menahan impor,” ujar Laode usai diskusi di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Selasa (7/10/2025).
Meski demikian, Laode yang merupakan anak buah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan, pihaknya tetap membuka ruang bagi masukan dari pelaku industri. “Kami menghormati masukan dari kawan-kawan industri. Tadi juga Pak Saleh menyampaikan ada opsi impor, tapi usulan itu akan kita tampung dulu,” jelasnya.
Sebelumnya, Saleh Husin mengusulkan agar pemerintah memberi izin kepada pelaku industri untuk mengimpor gas jika pasokan dalam negeri tidak mencukupi. Menurutnya, langkah ini penting agar industri tetap dapat beroperasi optimal.
Baca Juga
Pasokan Gas Murah Terbatas, Kadin Usul Pemerintah Bisa Buka Keran Impor
Ia menambahkan, hingga kini pasokan gas bumi harga tertentu (HGBT) senilai US$ 6 per MMBTU untuk industri manufaktur baru tersalurkan sekitar 60%. Selebihnya, pelaku industri masih harus membeli gas dengan harga pasar sebesar US$ 16–17 per MMBTU.
“Jangan sampai kebutuhan gas industri belum terpenuhi 100%, tapi sudah harus membeli dengan harga pasar. Ini tentu akan memberatkan dunia industri,” tegas Saleh.

