Kadin: Pasokan Gas untuk Manufaktur Baru 60%, Daya Saing Industri Makin Terjepit
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Saleh Husin mengungkapkan, industri pengolahan atau nonmigas menghadapi tantangan pemenuhan kebutuhan energi yang merupakan salah satu pendorong utama tumbuhnya industri, dalam hal ini adalah gas yang dibutuhkan industri.
Pasalnya, menurut Saleh, jumlah gas yang dipasok untuk kebutuhan industri hingga saat ini masih sebesar 60%. Padahal, pemerintah telah menetapkan harga gas bumi tertentu (HGBT) sebesar US$ 6 per MMBTU yang diberikan kepada tujuh sektor industri sebagaimana ditetapkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 255K Tahun 2024 tentang Pengguna Gas Bumi Tertentu dan Harga Gas Bumi Tertentu.
Baca Juga
Prabowo Tegaskan Serius Basmi Penyelundupan dan Tambang Ilegal Tanpa Pandang Bulu
"Namun, di dalam pelaksanaannya, kawan-kawan industri ini hanya mendapatkan 60% suplai gas yang HGBT," ucap Saleh Husin dalam diskusi bertajuk 'Keberlanjutan Gas Bumi untuk Industri Nasional: Sinergi Kebijakan, Pasokan, dan Daya Saing' di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (7/10/2025).
Saleh menilai, apabila pelaku industri harus membeli harga gas bumi senilai US$ 16,77 per MMBTU, maka daya saing industri akan semakin tertekan. Jika hal tersebut terus dialami sektor industri di bagian hulu, dikhawatirkan terjadi importasi barang atau produk jadi ke dalam negeri secara masif. "Kalau misalnya terlalu tinggi, bisa-bisa ada beberapa industri yang akhirnya lari ke negara-negara tetangga yang harga energinya lebih kompetitif," ungkapnya.
Baca Juga
Menuju NZE 2060, PGN (PGAS) Realisasikan Penurunan Emisi 24.861 Ton CO2e per Agustus
Maka dari itu, dukungan dari pemerintah dalam menyediakan pasokan gas untuk industri sangat diperlukan. Apalagi, Saleh menyebutkan, kinerja manufaktur berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan dapat bertumbuh hingga 8% sebagaimana tertuang pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
"Nah tentu untuk tumbuh 8% salah satu faktornya adalah tumbuhnya industri. Tanpa industri tumbuh, ya jangan berharap ekonomi bisa tumbuh 8%. Ini salah satu faktornya. Kita bisa melihat bahwa tentu industri harus tumbuh," terang Saleh.

