'Stepwise Development', Cara Cerdas PGE (PGEO) Hemat Biaya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO) atau PGE menegaskan komitmennya mendukung program pemerintah menuju net zero emission (NZE) 2060 dan swasembada energi nasional. Terlebih, saat ini Indonesia memiliki potensi sumber daya panas bumi (geotermal) mencapai 24 gigawatt (GW).
PGE akan mengembangkan pembangkit dengan menggunakan stepwise development.
Manager Investor Relations PT Pertamina Geothermal Energy Ronald Andre Hutagalung mengatakan, angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan potensi geotermal terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat (AS).
“Kami di PGE siap men-support program pemerintah, yaitu yang net zero emission target by 2060 dan kita juga fully support program presiden, yaitu swasembada energi sehingga bisa menekan biaya impor BBM dan kita bisa menggunakan renewable energy sebaik mungkin,” ucap Ronald dalam acara Investortrust Green Energy Summit (IGES) 2025 di Hotel JW Marriot, Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Baca Juga
Jepang Siap Gelontorkan Rp 45 Triliun! Ini Harapan API agar Proyek Geotermal "Laku Keras"
Ronald menyebutkan, dari potensi 24 GW yang dimiliki Indonesia, sekitar 79% merupakan high enthalpy geothermal, sehingga lebih ekonomis untuk dikembangkan. PGE berencana mengubah bisnis model dari sebelumnya large scale development dalam pengembangan geotermal ke depan.
“Kita akan mengembangkan pembangkit dengan menggunakan stepwise development. Apa itu stepwise development? Kita akan keluar atau akan mengembangkan pembangkit geotermal di area yang dekat dengan existing one,” beber Ronal.
Lebih lanjut dia menerangkan, hal ini dilakukan karena PGE akan menggunakan resource base yang sudah proven. Dengan demikian, success rate yang sebelumnya 50% akan naik menjadi 60%-70%.
Selain itu, PGE juga berencana mengakselerasi power plant development sehingga, dari geotermal akan meng-execute dengan smaller scale kapasitas menggunakan teknologi cogeneration.
“Cogeneration ini akan mempercepat time to development yang sebelumnya conventional power plant itu bisa 6-7 tahun. Namun, dengan menggunakan cogeneration teknologi ini kita bisa membangun pembangkit kita itu dalam waktu 20 bulan,” jelasnya.
Baca Juga
Dari Hidrogen Hijau hingga Geotermal, Pertamina-ACWA Power Saudi Buka Jalan Ekonomi Rendah Karbon
Dia menerangkan, hal itu membuat time to market jauh lebih cepat dengan capital expenditure (capex) lebih rendah. Dengan skema sebelumnya, membutuhkan capex US$ 6-7 juta per megawatt (MW). Namun, dengan cogeneration, kira-kira hanya butuh US$ 3 juta-3,5 juta per megawatt.
“Selain itu, kita juga akan develop new revenue stream untuk cost efficiency along the value chain. Contohnya kita akan membangun heat exchanger yang nanti diimplementasikan di cogeneration,” ujar dia.

