Pertamina Ungkap Pengumpulan Minyak Jelantah Buka Peluang Peningkatan Ekonomi Bagi UMKM
Poin Penting
●
Pertamina membuka skema pengumpulan minyak jelantah yang bisa ditukar uang Rp5.500–Rp6.000 per liter.
●
Program ini bukan hanya menambah pendapatan masyarakat, tetapi juga mampu mengurangi emisi karbon hingga 84%.
●
Pertamina telah berhasil melakukan penerbangan perdana Pelita Air (Jakarta–Bali).
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina (Persero) menyatakan bahwa inisiatif pengumpulan minyak jelantah membuka peluang peningkatan ekonomi bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hal itu diungkapkan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono dalam acara Green Energy Summit 2025 bertajuk “Transisi Energi yang Adil: Menjaga Bumi, Menyejahterakan Rakyat" yang digelar Investortrust.id di Hotel JW Marriot, Jakarta, Selasa (23/9/2025).
"Disini terlihat nyata bahwa minyak jelantah jadi bahan bakar pesawat. Itu adalah bentuk circular economy yang rakyat paling kecil. Mungkin suatu saat tukang gorengan," ujar Agung.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono menyampaikan sudut pandang yang berbeda pada acara Green Energy Summit 2025 dengan tema “Transisi Energi yang Adil: Menjaga Bumi, Menyejahterakan Rakyat”, bersamaan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kedua Investortrust.id yang jatuh pada akhir Agustus dan digelar di Jakarta, Selasa, (23/9/2025). Foto: Investortrust/Dicki Antariksa
Agung menjelaskan, Pertamina saat ini banyak mengumpulkan minyak jelantah dari hotel, restoran, dan sejumlah kafe. Meski begitu, Agung membeberkan bahwa sebenarnya masyarakat juga bisa datang mengumpulkan minyak jelantahnya.
"Sekarang sudah ada 35 lokasi. Terutama di Jabodetabek di Jawa. Dimana minyak jelantah bisa ditukar. Disitu utamanya adalah di SPBU," ungkap Agung.
Lebih lanjut, Agung menyebut, masyarakat yang membawa minyak jelantah tersebut bisa ditukar langsung menjadi uang, yakni sekitar Rp 5.500 - Rp 6.000 per liter. Adapun jumlah masyarakat yang mengumpulkan sudah mencapai 1.740 pengguna, dengan volume terkumpul mencapai 59.700 liter dan volume per bulan per lokasi 1.400 liter.
"Ini dampaknya luar biasa buat rakyat. Bukan hanya emisi karbon yang dikurangi. Bisa sekitar 84% totalnya emisi karbon dikurangi. Tapi yang utama juga adalah bagi rakyat yang bisa mengumpulkan ini," jelas Agung.
Sejalan dengan hal tersebut, Agung membeberkan bahwa Pertamina membuktikannya langsung dengan penerbangan Pertamina Pelita Air menggunakan sustainable aviation fuel (SAF) berbahan baku used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah. Pada tanggal 20 Agustus 2025, Pelita Air telah berhasil melaksanakan penerbangan perdana dengan menggunakan SAF yang diproses di Green Refinery Cilacap melalui metode co-processing dengan 2,5% minyak jelantah pada rute Jakarta-Bali.
"Jadi sebenarnya publik perlu tahu hal-hal baik yang dilakukan oleh Pertamina, salah satunya Pelita Air ini, dan Pelita Air ini juga yang kemudian terbang dengan minyak jelantah yang diolah menjadi SAF, Sustainable Aviation Fuel, Jakarta-Denpasar dan Denpasar-Jakarta. Saya waktu itu ikut terbangnya, tansit ke Denpasar cuma 20 menit. Balik lagi ke Jakarta, tapi membuktikan bahwa it's safe to fly with SAF from minyak jelantah, from used cooking oil. Dan ini nanti kita akan dorong lebih jauh, bukan hanya untuk pengurangan emisi, tapi juga mungkin meningkatkan business revenue untuk Pertamina," ucap Agung.