Indonesia dan Uni Eropa Teken Kesepakatan Substantif IEU-CEPA, Ekspor Sawit bakal Melesat?
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia dan Uni Eropa (UE) resmi menandatangani kesepakatan substantif Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) di Bali, Selasa (23/9/2025). Usai penandatanganan ini, sebanyak 90,40% produk Indonesia, seperti minyak sawit, akan langsung menikmati tarif 0% di pasar Uni Eropa.
Penandatanganan ini menjadi tindak lanjut dari pengumuman kesimpulan CEPA oleh Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen di Belgia pada Juli 2025. Dengan kesepakatan tersebut, Indonesia menjadi negara ketiga di ASEAN setelah Singapura dan Vietnam yang memiliki CEPA dengan Uni Eropa.
Baca Juga
Airlangga Hartarto: IEU-CEPA Bakal Ditandatangani 23 September 2025
“Dari putaran pertama perundingan di Brussels pada 20-21 September 2016 hingga hari ini di Bali, perjalanan sembilan tahun ini membawa kita pada tonggak bersejarah yang mencerminkan komitmen terhadap kemitraan ekonomi yang terbuka, adil, dan berkelanjutan,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Joint Press Statement bersama Komisioner Perdagangan dan Keamanan Ekonomi Uni Eropa Maroš Šefčovič, Selasa (23/09).
Kesepakatan IEU-CEPA mencakup liberalisasi perdagangan barang, jasa, dan investasi. Kedua pihak berkomitmen menghapus tarif pada lebih dari 98% jenis tarif dan 99% dari total nilai impor. Sejak implementasi awal, 90,40% produk Indonesia akan langsung menikmati tarif 0% di pasar Uni Eropa.
Komoditas utama ekspor seperti minyak sawit, kopi, tekstil, pakaian jadi, alas kaki, dan furnitur diproyeksikan meningkat. Selain itu, kesepakatan ini membuka peluang bagi ekspor produk berteknologi tinggi, termasuk ponsel pintar dan peralatan telekomunikasi. Uni Eropa juga menjanjikan fasilitasi perdagangan melalui penyederhanaan prosedur ekspor-impor serta kolaborasi otoritas pabean.
Baca Juga
Apindo Sebut Potensi IEU CEPA Dapat Jadi Booster Pertumbuhan Ekonomi RI
“Merupakan kehormatan bagi saya untuk berdiri di sini bersama Menteri Airlangga dan tim negosiasi Indonesia yang sangat tangguh, kuat, dan dinamis pada seremoni bersejarah ini,” kata Maroš.
Uni Eropa sendiri merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia dengan kontribusi di sektor bahan kimia, farmasi, jasa, kawasan industri, perhotelan, perdagangan, hingga industri makanan. Melalui IEU-CEPA, Indonesia akan mendapat kepastian regulasi, transfer teknologi, serta integrasi lebih kuat dalam rantai pasokan global.
Kesepakatan ini juga menjadi terobosan dalam perdagangan digital, sejalan dengan tren global dan inisiatif Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang dipelopori Indonesia saat memimpin ASEAN 2023. Fitur ini diperkirakan mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia di tingkat regional maupun global.
Ekspor Melonjak
Pemerintah memperkirakan ekspor Indonesia ke Uni Eropa dapat melonjak hingga 60% pada awal implementasi IEU-CEPA. Pertumbuhan ini disertai proyeksi peningkatan pendapatan nasional sebesar USD 2,8 miliar, penciptaan lapangan kerja baru, serta dampak langsung pada sekitar 5 juta tenaga kerja sektor padat karya.
Baca Juga
KLH: Net Zero Emission Harus Sejalan dengan Ketahanan Ekonomi Indonesia
Implementasi IEU-CEPA juga sejalan dengan Program Paket Ekonomi Indonesia semester II 2025 yang menekankan penciptaan lapangan kerja, penguatan pariwisata, dukungan UMKM, serta perlindungan daya beli masyarakat. “Dengan penandatanganan ini, dimulailah era baru dalam hubungan bilateral. Kerja sama ini melibatkan 723 juta orang dari kedua pihak dengan nilai lebih dari USD 21 triliun,” pungkas Airlangga.
Turut hadir dalam acara tersebut Duta Besar Indonesia untuk Brussels dan Uni Eropa, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, 21 Duta Besar Negara Anggota Uni Eropa, serta perwakilan pejabat tinggi dari sejumlah kementerian dan lembaga terkait.

