Investortrust Gelar “Green Energy Summit 2025”, 15 Pakar Bakal Bedah Masa Depan Energi Hijau
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Sebanyak 15 narasumber yang sangat kompeten di bidang energi hijau (green energy) akan tampil dalam Green Energy Summit 2025 yang digelar investortrust.id di Hotel JW Marriott, Kuningan, Jakarta, Selasa (23/9/2025) pagi. Mereka bakal membedah masa depan energi hijau dalam kaitannya dengan target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Acara bertajuk “Transisi Energi yang Adil: Menjaga Bumi, Menyejahterakan Rakyat” ini terbagi atas tiga sesi, yakni plenary session, breakout session I, dan breakout session II.
Acara tersebut akan dibuka Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung (special remarks I), dilanjutkan Direktur Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon (TKNEK) Kementerian Lingkungan Hidup, Wahyu Marjaka (special remarks II). Acara bakal ditutup Managing Director, Risk and Sustainability Danantara, Liengseng Wee (closing speech).
Baca Juga
Kucurkan Rp 402,4 Triliun untuk Ketahanan Energi, Prabowo Ingin RI Jadi Pelopor Energi Bersih
Plenary session bertema "Mengakselerasi Green Energy untuk Mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi 8%" menghadirkan Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono, serta VP ESG Communication PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Adam Zahir.
Adapun pada breakout session I yang mengusung tema Green Energy for Power: “Transisi Energi di Tengah Tantangan Dinamika Global” bakal tampil Managing Director Invesment Danantara Indonesia Stefanus Adi Hadiwidjaja, serta Direktur Manajemen Pembangkitan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)/PLN Rizal Calvary Marimbo.
Pembicara lainnya adalah VP Sustainability PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Gunawan Wasisto Ciptaning Andri, Manager Investor Relations PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Ronald Andre P HUtagalung, serta Vice President Energy Business Development PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Iko Gusman.
Sementara itu, Ketua Tim Dekarbonisasi Industri Pembina Industri Ahli Madya Kementerian Perindustrian Sri Gadis Pari Bekti, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi, Wakil Ketua Umum Bidang Industri Hijau Kadin Indonesia Halim Kalla, serta Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis PT Pertamina Patra Niaga Harsono Budi Santoso akan menjadi pembicara dalam breakout session II bertajuk Green Energy for Industry: “Peran Industri dalam Percepatan Transisi Energi Hijau”.
Menurut Chief Executive Officer (CEO) Investortrust Indonesia Sejahtera, Primus Dorimulu, Green Energy Summit 2025 dihelat untuk menjawab kegelisahan masyarakat globaldan nasional tentang nasib bumi dan masa depan energi hijau.
Menurut Primus, dunia sedang diadang dua tantangan besar yang saling berkelindan, yaitu krisis iklim global dan kemiskinan yang masif. Di satu sisi, bumi kian panas akibat emisi karbon. Di sisi lain, ratusan juta rakyat di negara berkembang, termasuk Indonesia, masih berjuang untuk keluar dari jurang kemiskinan ekstrem.
Baca Juga
Peta Jalan NZE Pertamina Jadi Langkah Strategis Menuju Energi Bersih Indonesia
“Bagi mereka, energi bukanlah isu lingkungan, melainkan soal hidup dan mati,” tegas Primus.
Indonesia, kata Primus Dorimulu, tidak boleh terjebak dalam dikotomi menjaga bumi atau menjaga rakyat. Pantang memilih salah satu, dengan menafikan yang lain. “Itu sebabnya, segenap stakeholders negeri ini harus mencari jalan tengah agar bisa menyelamatkan bumi, tanpa mengorbankan masyarakat miskin,” ujar dia.
Primus menjelaskan, bangsa Indonesia belum sejahtera. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk miskin per September 2024 berjumlah 24,06 juta orang atau 8,57% dari populasi, sedangkan kelompok rentan miskin mencapai 68,51 juta jiwa (24,42%).
Adapun menurut Bank Dunia, penduduk miskin di Indonesia berjumlah 194 juta jiwa (68,25%). “Mereka sangat bergantung pada listrik murah dari pembangkit batu bara, BBM bersubsidi, dan LPG 3 kg, yang juga disubsidi,” tutur dia.
Menjaga Bumi atau Menjaga Rakyat
Primus mengungkapkan, Indonesia tidak sendiri. Bahkan, kini, negara-negara maju ikut terjebak dalam dikotomi ‘menjaga bumi’ atau ‘menjaga rakyat’. Apalagi setelah Amerika Serikat (AS), di bawah kepemimpinan Donald Trump, telah menarik diri dari Perjanjian Paris.
Primus menambahkan, transisi energi di level global tidak seragam. Setiap bangsa punya prioritas, daya tahan, karakteristik, dan kebijakan masing-masing. Maka transisi energi tidak boleh semata mengikuti tren global.
Baca Juga
Pentingnya Generasi Muda Belajar Transisi Energi Bersih yang Adil dan Inklusif
“Transaksi energi harus dibumikan menjadi kebijakan yang adil. Bermodalkan kearifan lokal, Indonesia harus menjalankan transisi energi secara bermartabat dan berdaulat,” tandas dia.
Mengejar transisi hijau tanpa perhitungan matang, menurut Primus Dorimulu, bukanlah keberanian, tapi kebutaan, bahkan bunuh diri. Energi hijau yang terlalu mahal bisa melambungkan biaya hidup rakyat, menyulut inflasi energi, menggerus daya saing industri, dan menciptakan ketimpangan baru.
Karena itu pula, kata Primus, transisi energi Indonesia harus berpijak pada tiga fondasi utama, yakni keberlanjutan lingkungan (bumi harus diselamatkan), keadilan sosial (rakyat kecil harus dilindungi), dan pertumbuhan ekonomi inklusif (semua harus mendapat peluang).
“Intinya, Indonesia harus membangun ekonomi hijau yang menciptakan pekerjaan, bukan pengangguran. Nah, Green Energy Summit 2025 yang menghadirkan para pakar sangat kompeten di bidangnya diharapkan mampu memberikan banyak pencerahan tentang itu semua,” tutur dia.

