'Oversupply' Bikin Kilang Minyak di Sejumlah Negara Tutup, Pertamina Wanti-wanti Risiko
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina (Persero) menyebut sebanyak 26 kilang minyak di berbagai negara diperkirakan bakal berhenti beroperasi menjelang 2030. Ini menjadi sinyal bahwa industri kilang minyak dan gas bumi (migas) global tengah menghadapi tantangan berat.
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza mengatakan, faktor penutupan kilang migas global ini dikarenakan kelebihan pasokan atau oversupply, serta rendahnya spread produk kilang yang membuat bisnis kurang menguntungkan.
Baca Juga
Kilang Pertamina Ambil Alih 14% Saham Patra SK dari SK Enmove Korea
“Ada banyak kilang dunia yang ditutup di Eropa, di Amerika, di Australia dan diperkirakan ada 17 kilang yang akan tutup menjelang tahun 2030,” kata Oki dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (11/9/2025).
Pertamina memaparkan, akan ada sembilan kilang yang tutup di AS, Eropa, Asia, Australia, dan Selandia Baru pada 2027 mendatang. Selain itu, tambahan 17 kilang di Afrika, Uni Eropa, dan Asia diprediksi bakal menyusul ditutup juga hingga 2030.
Lebih lanjut, Oki pun menerangkan fenomena kelebihan pasokan ini bukan hanya terjadi pada minyak mentah, melainkan juga produk turunan kilang. Kondisi tersebut membuat profitabilitas tertekan karena spread produk, khususnya bensin, berada di bawah biaya operasi.
Baca Juga
Hadirkan Efek Berganda untuk Ekonomi, Kilang Pertamina Terapkan TKDN dan Gandeng Vendor Lokal
“Dengan ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Pertamina dan perusahaan energi lainnya, baik itu national oil company maupun international oil company,” ujar dia.
Pertamina mencatat, tambahan pasokan dari kilang baru yang mulai beroperasi juga memperbesar tekanan pasar. Saat ini, Pertamina mengelola enam kilang dengan kapasitas desain sekitar 1,1 juta barel per hari. Angka tersebut mampu memenuhi 60%-70% kebutuhan BBM nasional.

