KCI Pastikan Layanan Tidak Terdampak Beban Utang Whoosh
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) Asdo Artriviyanto menegaskan pelayanan KCI tetap berjalan optimal meski kinerja keuangan induk perusahaan, PT Kereta Api Indonesia (Persero), tergerus akibat pembengkakan utang proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) alias 'Whoosh'.
Mengacu laporan keuangan PT KAI, perusahaan menanggung rugi di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebesar Rp 951,48 miliar sesuai dengan porsi kepemilikan sahamnya.
Pada 2024, ketika PSBI mencatatkan rugi Rp 4,19 triliun, KAI juga harus menanggung rugi Rp 2,24 triliun. KAI merupakan pemegang saham terbesar PSBI dengan porsi 58,53%.
Asdo menyampaikan, kondisi tersebut tidak berimbas pada operasional KCI. “Enggak ada berdampak ke kita karena memang yang punya utang mereka (KCIC),” ujar Asdo di kantornya, Jakarta, Jumat (12/9/2025).
Baca Juga
Bareng Danantara, Bos KAI Akan Rampungkan Masalah Whoosh agar Tak Jadi "Bom Waktu"
Menurut Asdo, sumber pembiayaan utama KCI berasal dari alokasi public service obligation (PSO) yang besarannya berbeda tiap tahun.
Berdasarkan Buku Nota Keuangan serta RAPBN 2026, PT KAI menjadi penerima subsidi PSO terbesar, yakni mencapai 65% dari total anggaran atau sekitar Rp 5,86 triliun. Dana tersebut diberikan untuk mendukung perbaikan kualitas dan inovasi layanan kelas ekonomi pada angkutan kereta api.
Layanan kereta api yang menerima subsidi, meliputi KA ekonomi jarak jauh, KA ekonomi jarak sedang, KA ekonomi jarak dekat, kereta rel diesel (KRD) ekonomi, serta kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek dan Yogyakarta.
Subsidi juga dialokasikan untuk penyelenggaraan sarana dan prasarana LRT Jabodebek yang melayani 451,5 juta penumpang. Dalam kebijakan PSO ini, direncanakan pemberlakuan tarif khusus bagi penumpang berkebutuhan khusus (disabilitas).
Baca Juga

