Whoosh Angkut 2,9 Juta Penumpang hingga Tengah Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui anak usahanya, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mencatatkan jumlah penumpang layanan kereta cepat Whoosh sebanyak 2,936.599 orang sepanjang semester I 2025 atau hingga pertengahan tahun. Angka tersebut naik 10% dibandingkan periode sama 2024 mencapai 2.668.894 penumpang.
“Peningkatan ini turut dipengaruhi sejumlah momen libur nasional, seperti Idulfitri, libur sekolah, dan Tahun Baru Islam yang mendorong lonjakan volume harian,” kata Vice President Public Relations KAI Anne Purba dalam keterangan resmi, Jumat (4/7/2025).
Baca Juga
Promo Whoosh, KAI Kasih Potongan Harga 20% untuk Rombongan pada Liburan Sekolah
Dia menambahkan, rata-rata jumlah penumpang harian pada masa puncak mencapai 24.000-25.000 orang, dengan angka tertinggi pada 27 Juni 2025 yang tercatat sebanyak 26.770 penumpang.
Sejak awal beroperasinya Whoosh pada Oktober 2023, kata Anne, Indonesia memiliki layanan kereta cepat pertama di Asia Tenggara dengan kecepatan hingga 350 kilometer per jam. “Bahkan, sejak awal beroperasi sampai Juni 2025, layanan Whoosh telah melayani lebih 10 juta penumpang,” tutur dia.
Berdasarkan studi Pusat Polar Universitas Indonesia, emisi karbon kereta cepat Whoosh hanya 6,9 gram CO2 per penumpang-kilometer, atau 54% lebih rendah dibandingkan kendaraan pribadi yang mencapai 12,7 gram CO2.
Baca Juga
157 Juta Orang Pilih Kereta, KAI Ungkap Data Terbaru Penumpang KRL, Whoosh, hingga LRT
“Dengan demikian, Whoosh berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga 54% dan menekan potensi kerugian ekonomi akibat kecelakaan lalu lintas sebesar Rp 2,91 miliar per tahun,” jelas Anne.
KAI mencatat capaian ini sebagai bagian transformasi transportasi nasional, sekaligus memperkuat peran kereta cepat dalam mendukung konektivitas masyarakat dan pengembangan transportasi berkelanjutan di Indonesia.
“Pencapaian Whoosh ini adalah simbol kemajuan Indonesia dalam menghadirkan transportasi modern yang ramah lingkungan dan berstandar internasional. Ini membuktikan bahwa kita mampu melakukan lompatan besar untuk meningkatkan konektivitas dan mobilitas masyarakat,” tutup Anne.

