Angkutan Barang KAI Capai 45,26 Juta Ton, Batu Bara Mendominasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membukukan volume angkutan barang sebesar 45,26 juta ton sepanjang Januari–Agustus 2025, naik tipis 0,4% dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 45,07 juta ton.
Vice President Public Relations KAI, Anne Purba menyampaikan, komoditas batu bara mendominasi angkutan barang dengan kontribusi 82,8% atau 37,47 juta ton.
"Batu bara dari Sumatra Selatan menjadi tulang punggung pasokan energi bagi pembangkit listrik di Pulau Jawa dan Bali. Keberhasilan ini bukan hanya capaian operasional, tetapi kontribusi nyata KAI dalam menjaga ketahanan energi nasional," kata Anne dalam keterangan tertulis, Kamis (4/9/2025).
Baca Juga
1,7 Juta Warga Jabodetabek Naik Moda Kereta Api saat HUT RI ke-80
Anne menambahkan, perseroan membidik pertumbuhan volume angkutan barang 15% pada 2029, dengan proyeksi 111,2 juta ton batu bara dan 10,9 juta ton komoditas non batu bara.
Perusahaan pelat merah tersebut juga menyiapkan sejumlah proyek strategis, antara lain pengembangan Terminal Tarahan II di Sumatra Selatan berkapasitas 18 juta ton dan perluasan fasilitas di Kertapati dengan tambahan 7 juta ton.
"Sumatra Selatan akan menjadi pilar utama peningkatan angkutan barang KAI dalam 5 tahun ke depan dengan potensi tambahan hingga 27,8 juta ton. Hal ini memperkuat peran KAI sebagai mitra logistik andal bagi pertumbuhan ekonomi sekaligus keberlanjutan," tutur Anne.
Baca Juga
Di sisi angkutan ritel, KAI mencatat kenaikan sekitar 13% atau 163.381 ton sepanjang Januari–Agustus 2025, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 144.250 ton. "Pada Agustus 2025, volume angkutan retail mencapai 22.088 ton, menjadi capaian tertinggi kedua sepanjang tahun ini setelah Juli 2025 yang mencapai 23.442 ton," jelas Anne.
Anne menuturkan, KAI akan terus memperluas jangkauan layanan angkutan retail dengan memperkuat integrasi logistik multimoda. Hal itu dilakukan melalui kolaborasi dengan mitra strategis di sektor first mile dan last mile.
Selain memberi pilihan distribusi lebih cepat dan efisien, layanan angkutan retail berbasis kereta api juga dinilai lebih aman serta menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan angkutan jalan raya.
"Kami berharap layanan ini tidak hanya memberikan efisiensi bagi pelanggan, tetapi juga memberi kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus keberlanjutan lingkungan," pungkas Anne.

