Boeing Sebut RI Butuh 600 Pesawat Baru Buat Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi 7%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — PT Boeing Indonesia menyebut Indonesia membutuhkan sekitar 600 pesawat baru dalam jangka pendek untuk mendorong sektor penerbangan dan mendukung pertbumuhan ekonomi 7% seperti yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Managing Director Asia-Pacific (APAC) Marketing Boeing, Dave Schulte mengatakan, proyeksi pertumbuhan jangka panjang di kawasan Asia Tenggara ditopang tiga indikator utama, yakni pertumbuhan ekonomi, lalu lintas penumpang, dan penambahan armada pesawat.
Menurutnya, ekonomi kawasan diperkirakan tumbuh lebih 5% per tahun. Sementara lalu lintas penumpang diprediksi meningkat 7% per tahun dalam 20 tahun mendatang, salah satu yang tertinggi di dunia.
“Pertumbuhan armada tahunan (Asia Tenggara) diproyeksikan naik lebih 6,5% setiap tahun dalam 20 tahun ke depan,” kata Dave dalam konferensi pers di kantor Boeing, Menara Astra, Jakarta, Rabu (27/8/2025).
Ia menambahkan, jumlah kursi keberangkatan per kapita dari Indonesia saat ini tercatat 0,4 kursi, lebih rendah dari rata-rata Asia Tenggara sebesar 0,65 kursi per kapita. Sementara Thailand (1,18 kursi per kapita), Vietnam (0,65 kursi per kapita), dan Singapura tercatat lebih tinggi sekitar 6,97 kursi per kapita.
“Jika kita melihat data demografi dan angka-angka ini, apabila Indonesia dapat meningkatkan jumlah kursi per kapita hingga mencapai rata-rata Asia Tenggara, hal itu berarti kebutuhan sekitar 600 pesawat baru yang harus masuk ke Indonesia dalam jangka waktu dekat,” jelasnya.
Secara terpisah, Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara tengah melanjutkan kesepakatan dengan Boeing terkait pembelian 50 armada yang telah teken kontrak dengan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sebelum pandemi Covid-19.
CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani menyebutkan, Boeing baru mengirim satu unit pesawat dari total puluhan armada yang dijanjikan. Pengiriman pesawat diprediksi baru direalisasikan pada 2031-2032.
Baca Juga
China Perintahkan Maskapai Domestik Tunda Pengiriman Pesawat dari Boeing
Oleh karena itu, Danantara memutuskan untuk menyuntikkan dana lebih dari US$ 400 juta ke Garuda Indonesia. “Dana tersebut akan digunakan untuk perawatan dan optimalisasi armada, termasuk pesawat milik Citilink dan Garuda yang selama ini di-grounded. Banyak pesawat masih mencicil leasing, tapi tidak bisa terbang. Kami minta agar diperbaiki untuk bisa kembali beroperasi,” ujar Rosan beberapa waktu lalu.
Adapun rencana pembelian Boeing kembali mengemuka setelah masuk dalam klausul kerja sama perdagangan Indonesia-AS, sebagai bagian proposal Indonesia dalam upaya melobi Presiden AS Donald Trump agar menurunkan tarif resiprokal dari 32% menjadi 19%.
Meskipun Garuda sudah memiliki perjanjian pembelian, Rosan membuka kemungkinan penambahan pesawat Boeing di masa depan, sejalan kebutuhan jangka panjang sektor penerbangan nasional.
Wisatawan asing bertumbuh
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Juni 2025. Tercatat, jumlah kunjungan mencapai 1,42 juta, atau naik 8,42% dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat 18,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga
CEO Danantara Ungkap Alasan Suntik Dana ke Garuda dan Rencana Beli 50 Pesawat Boeing
“Jumlah ini menunjukkan tren positif kunjungan wisatawan ke Indonesia,” imbuh Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Jumat (1/8/2025).
Secara kumulatif, jumlah kunjungan wisman sepanjang Januari hingga Juni 2025 mencapai 7,05 juta kunjungan. Angka ini mencatat kenaikan sebesar 9,44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu berjumlah 6,44 juta kunjungan.
Dari sisi kewarganegaraan, wisatawan asal Malaysia, Singapura, dan Australia masih mendominasi arus kunjungan. Wisman asal Malaysia menduduki peringkat teratas dengan kontribusi 16,7% dari total kunjungan atau sebanyak 236.400 orang. Meski demikian, kunjungan dari Malaysia mengalami penurunan 0,87% secara bulanan, walaupun masih tumbuh 28,7% secara tahunan.
Sementara itu, wisatawan asal Singapura menunjukkan peningkatan signifikan. Pada Juni 2025, jumlah kunjungan dari negara tersebut melonjak 43,38% secara bulanan dan naik 16,97% dibandingkan tahun sebelumnya.

