AI Bukan Sulap, AVEVA Ungkap Tantangan Implementasi Kecerdasan Buatan di Indonesia
Bos AVEVA Ungkap Tantangan Pengembangan AI di Industri Indonesia: SDM dan Data Jadi Kunci
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia memiliki potensi besar dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di sektor industri. Namun, Vice President dan Southeast Asia Market Leader AVEVA, Thomas Phang, menilai bahwa adopsi AI masih menghadapi tantangan mendasar, terutama di bidang sumber daya manusia (SDM) dan pengelolaan data.
AI bukan sulap. Kecerdasan buatan hanya bisa belajar dari data yang diberi.
Dalam wawancara eksklusif dengan investortrust.id di sela-sela acara AVEVA Day 2025 di Jakarta, Selasa (5/8/2025), Thomas menyebut bahwa adopsi teknologi di Indonesia sangat bervariasi antar-sektor. Namun, ia menegaskan bahwa penerapan AI tidak boleh dilakukan hanya karena mengikuti tren.
Baca Juga
Google Cloud Luncurkan Program 'Indonesia BerdAIa' untuk Perkuat Keamanan Siber Nasional
“Ada perusahaan yang sudah 100 tahun berdiri, tetapi belum memulai digitalisasi. Jadi, setiap industri ada di tahap yang berbeda dalam adopsi teknologi,” ungkapnya.
Dia menilai, AI harus berangkat dari kebutuhan nyata, dari masalah yang ingin dipecahkan. "Harus ada pain point yang jelas, agar investasi teknologi bisa benar-benar membawa dampak bisnis,” sambungnya.
Thomas menekankan bahwa fondasi utama implementasi AI yang sukses adalah ketersediaan dan kualitas data. “Kalau data yang dimasukkan buruk, hasilnya juga buruk. Prinsipnya sederhana yakni garbage in, garbage out,” kata Thomas.
Ia menjelaskan terdapat tiga tahapan utama dalam pengelolaan data, yakni akuisisi dan penyimpanan, pemanfaatan, dan optimisasi. Hanya perusahaan yang sudah melalui ketiga tahap inilah yang siap mengadopsi AI secara maksimal.
Lebih lanjut, Thomas menyebutkan bahwa machine learning baru akan efektif jika data yang dimiliki perusahaan sudah matang. “AI bukan sulap. Dia hanya bisa belajar dari data yang kita beri. Jadi, kesiapan data jadi penentu utama keberhasilan,” katanya.
Tantangan lainnya adalah kesiapan SDM untuk mengelola dan memanfaatkan teknologi baru. Menurutnya, banyak tenaga kerja senior yang belum terbiasa dengan sistem digital, sementara generasi baru harus cepat beradaptasi di lingkungan kerja yang terus berubah.
Baca Juga
AVEVA Bocorkan Cara Industri RI Bisa Lebih Tangguh Lewat Teknologi AI dan 'Cloud'
“Pada akhirnya, perusahaan akan selalu bertanya seperti ini, 'Setelah mengeluarkan dana untuk teknologi, apa hasil nyatanya?' Itulah kenapa implementasi AI harus strategis, bukan hanya simbolik,” pungkasnya.
Sebagai penyedia solusi perangkat lunak industri, AVEVA turut berkomitmen mendampingi perusahaan di Indonesia melalui setiap tahap transformasi digital mereka. Salah satu caranya membangun ekosistem data dan kesiapan SDM yang mendukung pemanfaatan AI secara optimal.

