Starlink Stop Terima Pelanggan Baru, Pengamat Pertanyakan Komitmen Layanan 3T
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Keputusan Starlink menghentikan sementara penerimaan pelanggan baru di Indonesia menimbulkan pertanyaan soal arah bisnis dan target pasar layanan internet satelit tersebut.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai layanan Starlink justru lebih diminati masyarakat perkotaan yang memiliki daya beli tinggi.
“Permintaan barang-barang seperti Starlink ini pasti akan lebih banyak di daerah perkotaan karena mereka lebih punya modal dan kemampuan bayar lebih tinggi dibandingkan masyarakat di daerah 3T,” kata Huda kepada investortrust.id, Jumat (18/7/2025).
Padahal secara fungsi, Starlink sangat ideal untuk menjangkau wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang minim infrastruktur jaringan. Namun, harga layanan yang tinggi membuat layanan ini sulit dijangkau masyarakat pelosok.
“Harga layanan Starlink pun lebih mahal dibandingkan paket internet lainnya,” ujar Huda.
Ia menambahkan, secara ekonomi, target pasar Starlink justru berada di kawasan urban. Hal inilah yang membuat misi pemerataan jaringan internet di wilayah 3T sulit tercapai.
“Mereka merasa internet kabel fiber lambat, maka mereka beralih ke layanan yang menggunakan cara lain untuk menghasilkan internet lebih cepat,” jelasnya.
Huda menyebut, kondisi ini menunjukkan bahwa model bisnis berbasis satelit lebih cocok dijalankan oleh BUMN. “Berbeda ketika yang ditugaskan adalah BUMN misalkan, yang bertujuan untuk memperluas coverage internet di daerah 3T,” tuturnya.
Respons Kemenkomdigi
Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) menyebut keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan perusahaan asal AS tersebut.
"Keputusan untuk menghentikan sementara layanan bagi pelanggan baru sepenuhnya merupakan keputusan dari Starlink," kata Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan alasan Starlink menutup layanan baru karena kapasitas jaringan yang tersedia untuk Indonesia saat ini sudah penuh. Penambahan kapasitas sedang diupayakan melalui penggunaan pita frekuensi E-band yang digunakan untuk komunikasi antara gateway dan satelit.
"Proses evaluasi pun tengah dilakukan terhadap semua kewajiban Starlink di dalam Hak Labuh yang telah diterbitkan sebelumnya," tambah Wayan.
Sebagai pengingat, Starlink mulai beroperasi secara komersial di Indonesia sejak 2024 dan menjanjikan internet cepat tanpa infrastruktur kabel. Belum ada kepastian kapan layanan akan dibuka kembali, meski sejumlah e-commerce menyebut pendaftaran baru dibuka kembali September 2025.
Huda menyebut, kondisi ini menunjukkan bahwa model bisnis berbasis satelit lebih cocok dijalankan oleh BUMN. “Berbeda ketika yang ditugaskan adalah BUMN misalkan, yang bertujuan untuk memperluas coverage internet di daerah 3T,” tuturnya.
Respons Kemenkomdigi
Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) menyebut keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan perusahaan asal AS tersebut.
"Keputusan untuk menghentikan sementara layanan bagi pelanggan baru sepenuhnya merupakan keputusan dari Starlink," kata Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan alasan Starlink menutup layanan baru karena kapasitas jaringan yang tersedia untuk Indonesia saat ini sudah penuh. Penambahan kapasitas sedang diupayakan melalui penggunaan pita frekuensi E-band yang digunakan untuk komunikasi antara gateway dan satelit.
"Proses evaluasi pun tengah dilakukan terhadap semua kewajiban Starlink di dalam Hak Labuh yang telah diterbitkan sebelumnya," tambah Wayan.
Sebagai pengingat, Starlink mulai beroperasi secara komersial di Indonesia sejak 2024 dan menjanjikan internet cepat tanpa infrastruktur kabel. Belum ada kepastian kapan layanan akan dibuka kembali, meski sejumlah e-commerce menyebut pendaftaran baru dibuka kembali September 2025.

