Bauran EBT Nasional Diproyeksikan Capai 16% di 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional pada akhir tahun 2025 akan mencapai 16%. Sedangkan per hari ini, Kamis (17/7/2025), bauran EBT baru mencapai 15,25%.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengungkapkan, angka tersebut merupakan bauran EBT di energy mix. Jadi bukan hanya di sektor ketenagalistrikan saja, tetapi juga non-ketenagalistrikan seperti bahan bakar di sektor transportasi.
“Bauran kita itu di 2024 hanya 14,68%, per hari ini 15,25%. Berarti kan di akhir tahun mungkin sekitar 15,90-an%, 16% bauran EBT di energi mix,” kata Eniya dalam seminar yang berlangsung Kamis (17/7/2025).
Eniya tidak memungkiri bahwa pada awalnya pemerintah menargetkan bauran EBT di tahun 2025 sebesar 23%. Namun, mereka realistis dengan kondisi sekarang, angka tersebut tidak akan tercapai di tahun ini.
Baca Juga
Suplai Energi RI Melonjak 7,3% tetapi Bauran EBT Tertinggal, Bisakah Capai Target 23% di 2025?
“Jadi target kita 23% itu sebetulnya agak delay ke 2030. Nah ini kita harus kejar. Dan upaya pertama yang kita lakukan adalah mengubah konsep di RUPTL. Di RUPTL itu sampai dengan 2034 itu ada 42,6 GW. Jadi 71% ketenangalistrikan dalam 10 tahun ke depan itu 71% sudah EBT,” jelas dia.
Lebih lanjut, Eniya juga mengakui bahwa pihaknya telah mengubah strategi dalam menyusun roadmap menuju net zero emission (NZE) 2060. Kini, pihaknya akan bertanya dulu soal kesanggupan industri dan pihak-pihak terkait dalam menyerap dan mengembangkan energi bersih ini.
Dengan demikian, pemerintah jadi memiliki gambaran dan acuan berapa energi bersih yang dapat dikembangkan jika para pemainnya sudah memberi tahu kesanggupan mereka. Sebab, akan percuma pemerintah memaksakan target tinggi jika tidak ada kesanggupan dari para pemain.
“Sekarang kalau saya bikin roadmap, saya tanya industri dulu, sanggupnya kapan? Nanti tinggal saya tagih. Sekarang saya balik cara membuat roadmap-nya. Kemarin membuat roadmap yang hidrogen juga begitu, kan saya panggil untuk FGD. Bioetanol siapa yang sanggup? Dan tahun berapa? Jadi kita balik seperti itu,” bebernya.
Maka dari itu, menurutnya penting adanya kerja sama dari para pemangku kepentingan terkait. Termasuk di antaranya adalah pengembang untuk sektor bioenergi, yang diharapkan supaya industrialisasi untuk bioenergi bisa berjalan dan mendorong terwujudnya NZE 2060.

