Harga Minyak Melemah karena Trump Kasih Tenggat 50 Hari ke Rusia
Poin Penting
|
LONDON, Investortrust.id - Harga minyak turun tipis pada Selasa (15/7/2025) setelah Presiden AS Donald Trump berikan tenggat waktu 50 hari pada Rusia untuk mengakhiri perang Ukraina, sehingga meredakan kekhawatiran pasokan.
Harga minyak mentah Brent berjangka turun 50 sen atau 0,72% ditutup pada US$ 68,71 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WATI acuan AS turun 46 sen atau 0,69% menjadi US$ 66,52.
“Fokusnya selama ini tertuju pada Donald Trump, ada kekhawatiran ia segera menjatuhkan sanksi kepada Rusia, dan kini ia memberikan waktu 50 hari lagi,” kata analis komoditas UBS Giovanni Staunovo dilansir CNBC.
Kekhawatiran pengetatan pasar minyak yang segera terjadi telah mereda. Harga minyak sempat naik karena potensi sanksi, tetapi kemudian melemah karena tenggat waktu 50 hari meningkatkan harapan bahwa sanksi dapat dihindari.
Baca Juga
Pantau Harga Minyak, Airlangga Bocorkan Skema Bansos 'ala' 2022
"Jika Trump benar-benar menindaklanjuti dan sanksi diterapkan, itu akan mengubah prospek pasar minyak secara drastis,” kata analis di ING dalam sebuah catatan pada Selasa.
ING menyatakan, Tiongkok, India, dan Turki adalah pembeli terbesar minyak mentah Rusia. Mereka perlu mempertimbangkan manfaat membeli minyak mentah Rusia yang didiskon dengan biaya ekspor mereka ke AS.
Trump juga mengumumkan senjata baru untuk Ukraina pada Senin (14/7/2025).
Sementara pada akhir pekan lalu, Trump mengatakan, AS mengenakan tarif 30% untuk sebagian besar impor dari Uni Eropa dan Meksiko mulai 1 Agustus. Hal yang sama akan terjadi untuk negara-negara lain.
Tarif memperlambat pertumbuhan ekonomi, yang dapat melemahkan permintaan bahan bakar global dan menekan harga minyak.
Sementara pasar bersiap menghadapi paruh kedua yang lebih lemah karena ekspor turun, harga anjlok, dan kepercayaan konsumen tetap rendah.
Baca Juga
Bahlil Usulkan Target Lifting Minyak di 2026 Sebesar 610.000 BOPD
Data menunjukkan ekonomi Tiongkok melambat pada kuartal kedua 2025.
Analis di IG Tony Sycamore mengatakan, pertumbuhan ekonomi di China berada di atas konsensus terutama karena dukungan kuat fiskal. “Data ekonomi Tiongkok yang kurang menggembirakan memiliki implikasi langsung terhadap komoditas termasuk bijih besi dan minyak mentah,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), menurut laporan media Rusia menyebut, permintaan minyak diperkirakan akan tetap "sangat kuat” hingga kuartal ketiga 2025, menjaga keseimbangan pasar dalam jangka pendek,

