Bahlil Ingatkan Jangan Sampai Indonesia Jadi Negara 'Kutukan Sumber Daya Alam’, Apa Maksudnya?
KARAWANG, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia wanti-wanti mengingatkan jangan sampai Indonesia menjadi negara ‘kutukan sumber daya alam’. Artinya, jangan sampai bangsa Indonesia hanya mengeksploitasi kekayaan alamnya tanpa memikirkan keberlanjutan.
Kutukan sumber daya alam (resource curse) adalah fenomena ketika suatu negara dengan sumber daya alam yang melimpah mengalami pertumbuhan ekonomi, demokrasi, dan pembangunan ekonomi yang negatif. Ketergantungan terhadap sumber daya alam menyebabkan kurangnya inovasi dan kemajuan teknologi.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hilirisasi industri dapat menghindarkan suatu negara dari kutukan sumber daya alam. Kegiatan hilir industri, seperti diversifikasi industri dan inovasi teknologi, dapat membantu menghilangkan kutukan tersebut.
Baca Juga
Bahlil: Hilirisasi Harus Berkeadilan, Daerah Wajib Jadi Tuan di Negeri Sendiri
Bahlil memaparkan, pemerintah sejatinya sedang menggenjot berbagai program hilirisasi, salah satunya pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terintegrasi yang merupakan proyek hilirisasi nikel di kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Karawang, Jawa Barat.
Menurut Menteri ESDM, banyak faktor yang mesti diperhatikan dalam proyek hilirisasi, dari kegiatan pertambangan, produk yang akan dihasilkan, hingga kegiatan pascapenambangan.
"Jangan sampai kita menjadi negara kutukan sumber daya alam. Artinya, setelah tambang ini selesai, harus ada diversifikasi,” kata Bahlil di Karawang, Minggu (29/6/2025).
Tujuan dan seluruh rangkaian kegiatan hilirisasi sumber daya alam, menurut Bahlil Lahadalia, harus jelas disampaikan kepada pemerintah, termasuk program kegiatan setelah penambangan.
“Hilirisasi apa yang kita bangun, proposal feasibility study-nya sudah disampaikan kepada kami, termasuk sudah memikirkan dari sekarang kegiatan pascatambangnya,” tegas dia.
Bahlil memaparkan, ekosistem industri baterai terintegrasi di kawasan AIH Karawang akan menggarap precursor, katoda, hingga battery cell. Proyek ini akan dikerjakan di dua wilayah, yaitu Karawang (Jawa Barat) dan Halmahera Timur (Maluku Utara). Total investasinya mencapai US$ 5,9 miliar.
"Untuk Maluku Utara, lewat proyek ini, pada tahun kedelapan atau kesembilan, mereka akan membangun pusat ekonomi baru di sektor perikanan dan perkebunan, dengan memanfaatkan lahan-lahan eks tambang. Agar begitu tambang selesai, proses ekonomi di daerah terus berjalan," ungkap Bahlil.
Baca Juga
Pemerintah Fokuskan Hilirisasi 5 Komoditas, Inalum Siap Dorong Swasembada Aluminium
Dia menegaskan, proyek hilirisasi ini harus dilaksanakan secara berkeadilan sebagaimana arahan Presiden Prabowo. Adil untuk pengusaha daerah, masyarakat, dan pemda. Jangan sampai keuntungan proyek ini hanya dinikmati para pengusaha besar di Jakarta.
"Saya minta kepada perusahaannya agar realisasi ini jangan hanya menguntungkan investor dan pemerintah pusat. Karena itu, untuk bagian-bagian pekerjaan yang sifatnya kontraktor, pengadaan makanan, pengadaan BBM, saya minta kepada chairman dan CEO-nya agar melibatkan pengusaha daerah," jelas dia.
Bahlil menyebutkan, proyek hilirisasi nikel memiliki dampak pengganda (multiplier effect) terhadap perekonomian sekitar US$ 49 miliar. Angka tersebut bisa meningkat setiap tahun ketika harga komoditas nikel naik.

