Pemerintah Fokuskan Hilirisasi 5 Komoditas, Inalum Siap Dorong Swasembada Aluminium
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah menargetkan percepatan hilirisasi di lima sektor mineral strategis yakni, nikel, aluminium, baja, panel surya, dan tembaga. Upaya ini menjadi bagian dari realisasi 18 proyek prioritas senilai lebih dari Rp 700 triliun yang harus mulai terealisasi sebelum 2024 berakhir.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM, Surya Herjuna, menyatakan bahwa hilirisasi tidak bisa lagi ditunda jika Indonesia ingin lepas dari bayang-bayang negara berpendapatan menengah.
“Kalau kita hanya jadi eksportir bahan mentah, pasti kita tidak akan pernah jadi negara maju,” ujar Surya dalam acara Economic Update bertajuk Downstreaming Update in Prabowo's Era di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (18/6/2025).
Menurutnya, lima proyek besar telah diprioritaskan karena dianggap paling siap dan strategis untuk mendukung ketahanan energi dan industrialisasi nasional.
“Kita fokuskan pada proyek nikel (UDP), aluminium, baja, panel surya, dan tembaga. Lima ini potensial segera jalan, terutama untuk proyek BUMN,” katanya.
Namun, ia mengakui progres hilirisasi batu bara belum menggembirakan. Pemerintah saat ini memantau proyek-proyek gasifikasi batu bara, khususnya yang mengubah batu bara menjadi Bio-Methanol-Ethanol (BME).
“BME ini bisa jadi substitusi bahan bakar impor. Kalau keekonomian proyeknya masuk, saya yakin investor akan datang,” jelas Surya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Inalum, Melati Sarnita, memaparkan bahwa pihaknya kini tengah mengakselerasi pembangunan rantai pasok aluminium nasional dari hulu ke hilir. Kapasitas produksi Inalum yang semula stagnan di 250 ribu ton, berhasil ditingkatkan menjadi 274 ribu ton per tahun di 2024, dan akan terus dikembangkan.
“Target kami, pada 2028 Indonesia bisa memproduksi 2 juta ton alumina dan 900 ribu ton aluminium per tahun. Itu artinya kita bisa menyerap hampir seluruh kebutuhan domestik dan berhenti impor,” tegas Melati.
Lebih lanjut, investasi jangka menengah Inalum untuk lima tahun ke depan diperkirakan mencapai US$ 4,4 miliar atau sekitar Rp 70 triliun. Proyek ini tidak hanya berdampak pada industri, tetapi juga menyumbang pertumbuhan ekonomi lokal secara signifikan.
“Di Pembangunan, sejak proyek kami aktifkan kembali, pertumbuhan ekonomi naik dari 4,1% jadi 6,6%,” kata Melati.
Baca Juga
APBI Harap Pemerintah Bikin Industri Hilirisasi Batubara Seperti Nikel
Kendati begitu, Inalum mengakui masih ada tantangan, terutama dalam pengurusan izin, pembebasan lahan, dan pengelolaan limbah hasil pengolahan bauksit.
“Dari 3 juta ton bauksit, hanya 1 juta ton yang jadi alumina. Sisanya harus kita pikirkan pemanfaatannya, jangan sampai jadi sampah,” ujar Melati.
Pemerintah dan Inalum kini aktif menjalin kerja sama dengan daerah-daerah penghasil mineral untuk mendukung hilirisasi. Proyek-proyek tersebut juga masuk dalam daftar strategis nasional yang menjadi perhatian langsung Presiden.
Dengan hilirisasi yang terintegrasi dan dukungan investasi kuat, Indonesia ditargetkan menjadi pusat industri aluminium berstandar ESG, terutama untuk pasar ekspor seperti Eropa yang mensyaratkan produk ramah lingkungan.
Baca Juga
Transisi Energi Harus Dibangun Beriringan dengan Penguatan Hilirisasi

