Mengekor Minyak, Harga Gas Akan Naik Jadi 'Segini' Imbas Konflik Israel-Iran
CHICAGO, Investortrust.id - Harga minyak melonjak pada Jumat (1/6/2025) pekan lalu karena Israel dan Iran saling serang, sehingga hampir dipastikan bahwa harga bensin akan naik bagi pengemudi di AS. Selain itu, harga gas juga akan melonjak dalam beberapa waktu ke depan.
Hal itu diungkapkan sejumlah analis industri kepada ABC News, Selasa (17/6/2025).
Aksi salilng serang Iran dan Israel memicu kekhawatiran di kalangan investor soal kemungkinan meluasnya konflik di Timur Tengah, yang menyumbang sebagian besar produksi minyak global.
Baca Juga
Serangan Israel Hantam Stasiun TV Ketika Iran Desak Trump Hentikan Perang
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) acuan AS melonjak lebih 8% pada Jumat. Sementara harga minyak mentah berjangka Brent, tolok ukur utama dunia naik lebih dari 8%. Sedangkan pada Senin (16/6/2025), harga minyak melemah di tengah sinyal dari Iran yang membuka opsi gencatan senjata dengan Israel setelah 4 hari saling serang antar kedua negara.
Pada Senin waktu AS, minyak WTI untuk kontrak Juli ditutup turun US$ 1,21 atau 1,66% ke level US$ 71,77 per barel, sedangkan minyak Brent melemah US$ 1 atau 1,35% ke US$73,23 per barel.
Lonjakan harga minyak mengancam akan menaikkan harga bensin bagi pengemudi AS, karena minyak mentah merupakan bahan utama dalam bahan bakar mobil. Jika harga minyak tetap tinggi, harga gas kemungkinan akan naik dalam beberapa minggu mendatang.
"Namun, lonjakan harga yang jauh lebih parah dapat terjadi jika eskalasi merusak infrastruktur minyak Iran atau menjerat rute pengiriman minyak di dekatnya," imbuh analis energi.
Kepala analisis minyak bumi di GasBuddy Patrick de Haan mengatakan, harga gas kemungkinan akan mulai naik di sebagian besar negara sebagai respons terhadap serangan Israel terhadap Iran, yang telah menyebabkan harga minyak melonjak.
De Haan menambahkan, satu galon bensin bisa naik antara 10 dan 25 sen. Sementara harga rata-rata satu galon bensin saat ini adalah US$ 3,13, menurut data AAA . "Kenaikan harga yang diantisipasi de Haan akan mencapai lonjakan hingga hampir 8%," kata dia dalam sebuah posting di X.
Namun, Kepala analisis minyak di S&P Global Commodity Insights Richard Joswick mengatakan, kenaikan harga bisa saja bersiat sementara merujuk serangan balasan Israel dan Iran pada Oktober 2024 lalu, yang menyebabkan harga minyak melonjak sebelum sempat mereda ketika kedua pihak memilih tidak melakukan eskalasi.
"Ketika Iran-Israel saling serang terakhir kali, harga melonjak, lalu turun lagi, tidak meningkat dan tidak berdampak pada pasokan minyak," kata Joswick.
Seorang profesor teknik perminyakan di Universitas Houston Ramanan Krishnamoorti mengatakan eskalasi konflik lebih lanjut antara Israel dan Iran dapat menyebabkan harga minyak dan gas naik secara signifikan.
"Meski sanksi telah membatasi produksi minyak Iran dalam beberapa tahun terakhir, negara itu menyumbang sekitar 3% dari produksi minyak global," kata Krishnamoorti.
Iran juga menegaskan kendali atas jalur tanker melalui Selat Hormuz, rute perdagangan yang memfasilitasi pengangkutan sekitar 20% pasokan minyak global.
"Harga minyak dapat melonjak dari level saat ini menjadi US$ 120 per barel jika konflik Israel-Iran merusak infrastruktur minyak Iran atau menghalangi beberapa kapal tanker minyak di Selat Hormuz," kata Krishnamoorti.
Skenario itu akan mengakibatkan kenaikan harga minyak naik lebih 60%, yang mengerek kenaikan harga gas secara proporsional. Harga rata-rata satu galon gas akan naik dari US$ 3,13 menjadi US$ 5,13.
Baca Juga
Wall Street Menguat di Tengah Harapan Deeskalasi Israel-Iran, Dow Melonjak di Atas 300 Poin
"Jika kita melihat pembatasan di Selat Hormuz, kita akan melihat kenaikan harga minyak besar, dan itu akan berdampak pada semua hal di AS," kata Krishnamoorti.
Prediksi potensi lonjakan harga minyak tersebut sesuai proyeksi perusahaan manajemen aset Lazard, yang memperingatkan tentang kemungkinan eskalasi yang melibatkan serangan terhadap instalasi energi Teluk atau upaya untuk menutup Selat Hormuz untuk sementara waktu.
"Skenario seperti itu akan memicu kenaikan harga minyak hingga US$120 per barel," kata Lazard dalam memo kepada investor.
Iran meluncurkan puluhan rudal balistik ke Israel pada Jumat malam sebagai balasan atas serangan mendadak Israel Jumat dini hari. Israel menyerang jantung program nuklir Iran menewaskan beberapa ilmuwan nuklir serta pemimpin militer tingkat tinggi.

