Pertamina Pastikan Impor Minyak dari AS Bukan Tambah Kuota, tetapi 'Shifting' Negara Lain
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina (Persero) menyatakan rencana penambahan impor minyak dari Amerika Serikat (AS) bukan merupakan penambahan kuota, melainkan hanya pengalihan (shifting) sumber impor minyak dari negara lain. Langkah tersebut dalam rangka menyeimbangkan neraca perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) sekitar US$ 14,6 miliar (Rp 245,21 triliun).
"Untuk negosiasi Indonesia dengan USA ini juga ada arahan pemerintah, kita bukan menambah impor dari Amerika, melainkan shifting, shifting import," kata Direktur Utama PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri dalam konferensi pers "Capaian Kinerja Pertamina Tahun 2024" di Jakarta, Jumat (13/5/2025).
Simon mengatakan, saat ini ada beberapa negara atau lokasi yang dijadikan tempat mengimpor minyak mentah ke Indonesia. Dengan adanya kebijakan tarif Presiden AS Donald trump ini, Pertamina akan melakukan shifting untuk mendapatkan sumber dari AS. "Kita berusaha mendorong (shifting) sekaligus arahan pemerintah untuk melakukan negosiasi tarif ini," kata dia.
Tantangan waktu dan harga
Meski demikian, kata dia, shifting impor minyak dari AS perlu mempertimbangkan waktu pengiriman dan harga. "Untuk memastikan ketahanan energi di Indonesia dapat terpenuhi, beberapa langkah ini perlu kita perhitungkan dari lamanya waktu pengiriman, termasuk harga yang kita dapat dari Amerika," kata Simon.
Simon menegaskan kembali, pemerintah mendukung semua upaya Pertamina untuk meningkatkan transaksi dengan AS dalam pengadaan sumber minyak atau peningkatan volume impor LPG.
"Kami yakin dengan bantuan serta negosiasi dari pemerintah, kita akan mendapatkan solusi terbaik yang apabila dalam jangka panjang, bisa mendapat harga lebih kompetitif," kata Simon.
Namun, di sisi lain kata dia, dalam rangka mendukung ketahanan energi nasional, upaya Pertamina di dalam negeri terus dilakukan, antara lain mengoptimalkan potensi geotermal dan energi terbarukan.
"Potensi yang disebut indigenous dari Indonesia, yaitu geotermal. Untuk itu kita akan terus mendorong peningkatan kapasitas geotermal, energi terbarukan, antara lain meningkatkan ekosistem bioenergi, yaitu biodiesel dan biofuel," kata Simon.
Impor minyak dan LPG
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), saat ini surplus perdagangan antara Indonesia dan AS mencapai US$ 14,6 miliar atau Rp 245,21 triliun. Dengan rencana tambahan impor LPG dan minyak ke AS, bisa menyeimbangkan neraca perdagangan tersebut.
Selama Januari-Desember 2024, Indonesia mengimpor LPG sebanyak 3,94 miliar kilogram (kg) atau sekitar 3,94 juta ton dari AS. Adapun nilai impor LPG dari AS selama 2024 mencapai US$ 2,03 miliar atau sekitar Rp 32,22 triliun (kurs rata-rata sepanjang 2024 Rp 15.847 per US$).
BPS mencatat, total impor LPG Indonesia sepanjang 2024 mencapai 6,89 miliar kg atau 6,89 juta ton senilai US$ 3,79 miliar. Artinya, impor LPG dari AS mendominasi, yakni mencapai 57% dari total volume impor LPG Indonesia. Sementara dari sisi nilai, impor LPG dari AS mencapai 53% dari total impor LPG RI.
Selain LPG, Indonesia mengimpor minyak mentah (crude) dari AS. Sepanjang 2024 impor minyak dari AS tercatat 668,47 juta kg dengan nilai US$ 430,87 juta atau sekitar Rp 6,8 triliun. Angka ini cukup kecil dibandingkan dengan total nilai impor minyak mentah Indonesia selama 2024 mencapai US$ 10,35 miliar dengan volume impor sebesar 16,85 juta ton
Indonesia dikenakan tarif resiprokal 32% oleh Pemerintahan Donald Trump, yang diumumkan pada Rabu (2/4/2025), meski saat ini diberi tenggat waktu 90 hari.
Kinerja 2024
PT Pertamina (Persero) mengumumkan pencapaian laba sebesar US$ 3,13 miliar (Rp 50,9 triliun) sepanjang 2024. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan 2023 sebesar US$ US$ 4,77 miliar (Rp 76,5 triliun). Meski demikian, target 1 juta barrel oil per day (BOPD) minyak pada 2028 tetap digenjot.
Direktur Keuangan PT Pertamina Emma Sri Martini mengungkapkan, penurunan ini terjadi karena memburuknya seluruh parameter di global, baik itu harga minyak mentah (crude price/ICP), minyak mentah Brent, hingga Mean of Plats Singapore (MOPS).
“Kalau dilihat dari seluruh parameter global, terjadi perburukan dari seluruh parameter, baik itu Brent, crude price (ICP), MOBS, yang semuanya melandai,” kata Emma dalam konferensi pers Capaian Kinerja Pertamina Tahun 2024 yang berlangsung di Jakarta, Jumat (13/5/2025).
Sementara menurut sumber, dividen Pertamina tahun buku 2024 sekitar Rp 41 triliun.
Pertamina berkomitmen meningkatkan produk dalam negeri dengan realisasi belanja nasional mencapai Rp 415 triliun yang memberikan kontribusi kepada 4,1 juta lapangan kerja dan meningkatkan produk domestik bruto (PDB) nasional hingga Rp 702 triliun pada 2024.
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menegaskan seluruh subholding dan anak perusahaan Pertamina fokus memberikan kinerja terbaik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Sepanjang 2024, imbuh Fadjar, Pertamina telah melakukan pengeboran intensif dan masif dengan 22 exploration, 821 development, 981 workover, serta 36.860 well intervention well services (WIWS).
Di sektor midstream, Pertamina terus mengoptimalkan kinerja kilang yang telah berhasil mencapai yield valuable hingga 83,2% dengan volume intake rerata 320 juta barel. Kontribusi kilang Pertamina mencapai 70% BBM nasional serta 100% untuk produk avtur dan biosolar.
Di bisnis hilir, sepanjang 2024 Pertamina berhasil mencatatkan rekor penjualan BBM sebanyak 105 juta KL naik 6% dibanding 2023. Pada saat yang sama, Pertamina sukses menjalankan penugasan pemerintah dalam penyaluran BBM subsidi.
Pertamina mengelola lebih dari 15.000 titik ritel BBM dan lebih dari 250.000 titik pangkalan LPG, guna memastikan ketersediaan energi di seluruh Indonesia.
Pada bisnis gas, Pertamina berhasil mengelola 312 juta MMBTU volume niaga gas. Sedangkan, volume transmisi gas meningkat 6% dibandingkan 2023, menunjukan bahwa Pertamina menguasai 91% pasar gas bumi di Indonesia (market share).
Pada sektor integrated marine logistics, volume kargo diangkut mencapai 161 juta KL. Pertamina juga meningkatkan tonase kapal 24 persen dibanding tahun 2023.
Sementara Pertamina New and Renewable Energy mampu mencapai total produksi listrik 8.475 GWh, naik 55% dibanding tahun lalu. Produksi listrik tersebut utamanya dari beroperasinya PLTGU Jawa Satu Power.
Selain kinerja positif, Pertamina juga melakukan inovasi dalam operasional bisnisnya dengan lebih ramah lingkungan. Hasilnya, sepanjang 2024 Pertamina berhasil melakukan dekarbonisasi emisi GRK sebesar 1,7 juta ton CO2e.

