Timur Tengah Memanas, 'Shifting' Impor Minyak dari AS Ditunda?
JAKARTA, investortrust.id - Meletusnya konflik bersenjata antara Iran dengan Israel di Timur Tengah turut menjadi perhatian PT Pertamina (Persero). Pasalnya, ketegangan kedua negara tersebut membuat harga minyak dunia melambung.
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menyebut, pihaknya akan melakukan kajian terkait dampak perang Iran-Israel tersebut. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan rencana pemerintah ingin menambah porsi impor minyak dari Amerika Serikat (AS) ditunda.
Baca Juga
Perang Iran-Israel Bikin Minyak Melejit ke US$ 78,50, Pertamina Naikkan Harga BBM?
“Itu (penundaan shifting impor dari AS) salah satu yang belum dikaji juga. Nanti kami lihat situasinya seperti apa. Sekarang termasuk juga nanti dari pemerintah arahannya seperti apa,” ucap Fadjar saat ditemui di Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (17/6/2025).
Terkait impor minyak dari AS, dia menegaskan bahwa pemerintah bukan menambah porsi impor secara keseluruhan. Namun, mengalihkan (shifting) impor dari negara lain ke AS sebagai upaya menyeimbangkan neraca perdagangan dengan Negeri Paman Sam tersebut.
“Kajian terus kita lakukan ya. Jadi kita buka peluang, tetapi kita tidak meningkatkan impor, kita men-shifting dari lokasi-lokasi lain yang kita bisa alihkan ke Amerika. Nmaun, tentu dengan kebijakan impor ini kan kita juga membutuhkan dukungan dari pemerintah berupa regulasi,” ujar dia.
Kendati demikian, saat ini Fadjar belum bisa memberi tahu negara mana saja yang bakal dikurangi atau dihentikan impor minyaknya untuk dialihkan ke Amerika. Sejauh ini, baru Singapura yang disebut bakal dihentikan.
Baca Juga
Sesuai Spesifikasi, Pertamina Lanjutkan Kajian Impor Minyak dari AS
“Jadi ketika kajiannya sudah selesai, dan secara regulasi sudah diterbitkan pemerintah, baru kita bisa eksekusi,” tegas Fadjar.
Serangan hari pertama Israel terhadap Iran telah menaikkan harga minyak dunia cukup signifikan. Pada Jumat (13/6/2025), harga minyak mentah Brent meroket 13% menjadi US$ 78,50 per barel, kenaikan tertinggi sejak Januari 2025.
Sementara itu, pada Rabu (18/6/2025) harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$ 77,01 per barel. Ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan penutupan Selasa (17/6/2025) di angka US$ 75,37 per barel.

