PHE Buka-bukaan soal Risiko, Regulasi, dan Harapan untuk Genjot Minat Investasi Migas
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina Hulu Energi (PHE), subholding upstream PT Pertamina (Persero) yang fokus kegiatan hulu minyak dan gas (migas), tidak menampik jika minat perusahaan global terhadap eksplorasi migas di Indonesia masih rendah. Selain karena besarnya risiko dan kebutuhan modal tinggi, tantangan lain karena butuh dukungan insentif dan kepastian regulasi.
”Jadi kalau tidak ada yang mencari, tidak ada yang ketemu. Kalau tidak ketemu ya tidak tercapai. Jadi sebenarnya alurnya ini simpel, yaitu daya tarik untuk orang bisa masuk ke sini adalah kemudahan perizinan,” kata Corporate Secretary PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Arya Dwi Paramita dalam Podcast Konvergensi bersama CEO Investortrust Primus Dorimulu, di The Convergence Indonesia, Jakarta, Rabu (7/5/2025).
Baca Juga
Produksi Migas PHE Meledak Tembus 1 Juta BOEPD, Siap Wujudkan Swasembada Energi?
Menurut Arya, sektor migas adalah industri yang punya karakteristik high risk, high capital, dan high technology, sehingga dibutuhkan kebijakan yang pro-investasi, mulai insentif fiskal hingga penyederhanaan perizinan.
“Yang bisa dipastikan sebenarnya adalah satu komando dari kebijakan, jika memang kita ditargetkan untuk bisa swasembada energi, kan juga ada swasembada pangan, ini bisa berjalan bersamaan selama pemerintah bisa memberikan kemudahan dalam akses tadi, baik itu kebijakan, perizinan, maupun dukungan dari policy,” katanya,
Produksi dari luar negeri
Di lain sisi, lanjut Arya, PHE juga terus melakukan eksplorasi secara agresif dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, produksi minyak mentah dari luar negeri yang dikendalikan PHE saat ini mencapai sekitar 150.000 barel per hari, dari total produksi 550.000 barel yang sukses diproduksi PHE.
Baca Juga
Pertamina Hulu Energi Raih Produksi Migas 1,042 Juta MBOEPD pada Triwulan I
“Di luar negeri kita juga memang menjadi salah satu backbone, karena dari angka produksinya juga kontribusinya positif, dan ini juga menjadi semangat kita bahwa capability dari anak-anak Indonesia ini proven (terbukti), artinya sumber daya manusia kita berkualitas,” ucap dia.
Arya menjelaskan, naiknya produksi yang berhasil dilakukan PHE merupakan kombinasi antara optimalisasi sumur lama dan pemboran sumur baru. Termasuk dari wilayah kerja eksisting, seperti Sumatera Selatan, hingga eksplorasi wilayah baru seperti di Sulawesi.
“Sekarang kita sedang mencoba untuk masuk ke wilayah Timur, mulai Sulawesi, dan beberapa discovery yang terakhir itu positif. Meksi demikian, juga kita masih percaya juga di wilayah Barat juga masih menunjukkan angka yang bagus,” kata Arya.

