Ini Faktor yang Bakal Bikin Harga Emas Balik Arah Turun
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan sejumlah faktor yang bakal membuat harga emas mengalami penurunan. Salah satunya meredanya perang dagang global.
Harga emas memperpanjang rekor kenaikannya pada Rabu (16/4/2025), melampaui US$ 3.300 per ons, seiring pelemahan dolar dan meningkatnya ketegangan dagang AS-Tiongkok. Harga emas spot naik 3,1% menjadi $3.327,78 per ons. Kontrak berjangka emas AS naik 3,2% menjadi US$ 3.344,1. Ini melampaui puncak tertinggi sepanjang masa sebelumnya yang terjadi pada Senin (14/4/2025).
Baca Juga
Harga Emas Naik Imbas Pelemahan Dolar dan Ketidakpastian Tarif Trump
Adapun harga emas Antam hari ini, Kamis (17/4/2025) yang dipantau dari laman Logam Mulia juga cetak rekor mencapai Rp 1,975 juta atau naik Rp 59.000 dari Rabu (16/4/2025) Rp 1,916 juta per gram. Adapun rekor tertinggi harga emas Antam (ANTM) sepanjang masa (all time high/ATH) sebelumnya berada di level Rp 1,916 juta per gram yang dicetak pada 16 April 2025.
“Penurunan harga emas dunia itu salah satu penyebabnya usainya perang dagang. Ada namanya deal solution antara AS dengan beberapa negara,” kata Ibrahim saat dihubungi Investortrust, Kamis (17/4/2025).
Faktor geopolitik
Selain itu, faktor lain yang bisa membuat harga emas turun adalah meredanya geopolitik, terutama di Timur Tengah dan Eropa. Sebab, setelah Amerika memparkasai genjatan senjata antara Rusia dan Ukraina, tidak berdampak sama sekali.
“Apalagi Amerika menghentikan persenjataan ke Ukraina, sehingga wilayah-wilayah Ukraina banyak sekali yang dibom dan tidak ada perlawanan. Nah ini yang membuat Inggris dan Prancis akhirnya mengirimkan persenjataan, sehingga pertempuran di Eropa itu semakin sengit,” jelas dia.
Sementara itu, di Timur Tengah, kata dia, Israel diperkirakan bukan saja menguasai Jalur Gaza, tetapi wilayah-wilayah di sekitarnya, yaitu sebagian Jordania dan Suriah.
“Nah ini yang cukup menarik sehingga banyak negara-negara di Timur Tengah ini mengecam kebijakan-kebijakan Amerika dan Israel. Apalagi Amerika sudah melakukan ultimatum terhadap Iran tentang masalah reaktor nuklir. Nah ini pun juga cukup sengit,” ujar Ibrahim.
Ibrahim memandang pemerintahan Trump yang baru berjalan beberapa bulan telah membuat perekonomian hancur. Bahkan di Amerika dan Eropa, banyak orang-orang kaya yang sudah menarik dananya di saham.
Menurut dia, jika banyak orang kaya lebih memilih memegang uang cash ketimbang menginvestasikan dananya di saham, kemungkinan besar bakal terjadi perlambatan ekonomi.
“Kalau terjadi perang dunia ketiga, yang terjadi apa? Yang terjadi surat berharga tidak akan ada harganya. Nah ini akhirnya mereka ada dua pilihan. Dia menarik uang secara cash, kemudian yang kedua adalah menginvestasikan di logam mulia,” sebut Ibrahim.
Bank sentral BRICS
Sebelumnya pengamat pasar keuangan Ariston Tjandra tidak memungkiri bahwa ada faktor bank sentral dari negara-negara yang tergabung BRICS di tengah melonjaknya harga emas. Pasalnya, BRICS yang diinisiasi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan ini memborong emas untuk mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat (AS).
Baca Juga
Harga Emas Naik Imbas Pelemahan Dolar dan Ketidakpastian Tarif Trump
“Diversifikasi cadangan devisa yang dilakukan beberapa negara, termasuk BRICS, untuk mengurangi dominasi dolar AS dengan membeli emas dalam jumlah besar juga turut mendorong kenaikan harga emas ini,” kata Ariston saat dihubungi Investortrust, Rabu (16/4/2025).
Ariston menjelaskan, kenaikan harga emas juga dipicu persepsi pasar bahwa AS akan terimbas dampak negatif kenaikan tarif impor sehingga perekonomian Negeri Paman Sam itu melambat. Dampaknya, bisa memicu bank sentral AS (The Fed) memangkas suku bunga acuannya.
Emas Antam bisa Rp 2,3 Juta
Ariston memperkirakan, dalam jangka pendek maupun jangka panjang, harga emas masih dalam tren naik dikarenakan sejumlah sentimen global. Bahkan emas Antam diprediksi bisa menembus Rp 2,3 juta per gram dari saat ini Rp 1,904 juta per gram.
Baca Juga
Wajib Tahu! Ini 4 Cara Simpan Emas yang Paling Aman, Salah Satunya di Safe Deposit Box
“Emas Antam mungkin bisa ke Rp 2,3 juta per gram, emas global di pasar spot di US$ 3.500 per troy ons,” ucap Ariston.
Di sisi lain, dolar AS yang berada di dekat level terendah 3 tahun terhadap mata uang lainnya, turut menopang emas.
Emas, yang digunakan sebagai investasi aman di tengah ketidakpastian politik dan keuangan, naik lebih 23% pada 2025 dan telah mencetak beberapa rekor tertinggi.
Baca Juga
Goldman Sachs menjadi institusi yang paling optimistis di antara bank-bank besar dunia terhadap emas. Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga emas akhir 2025 menjadi US$ 3.700 karena permintaan bank sentral yang kuat dan meningkatnya risiko resesi.
Sebelumnya mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta (BEJ) -saat ini BEI- Hasan Zein Mahmud mengungkapkan, faktor utama kenaikan harga emas adalah kehendak dunia untuk melakukan dedolarisasi. Salah satunya dilakukan oleh negara-negara BRICS.
BRICS yang berdiri pada Juni 2009 memiliki visi utama mencari perimbangan sistem keuangan global. "Sejak itu, selama 16 tahun, bank sentral melakukan pembelian emas besar-besaran," kata Hasan.
Bahkan selama 3 tahun terakhir pada 2022-2024, bank sentral telah melakukan pembelian sebesar 3.200 ton. Adapun pembeli terbesar, di antara bank sentral China, bank sentral Rusia, dan bank sentral India. "Tiga dari empat negara pencetus BRICS," kata dia.

