Entitas Alamtri (ADRO) Kebut Pembangunan PLTA Rp 45 T dengan Bendungan Tertinggi di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebelumnya bernama PT Adaro Energy Indonesia Tbk melalui entitas usaha lainnya, PT Kayan Hydropower Nusantara (KHN) mempercepat proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mentarang Induk berkapasitas 1.375 megawatt (MW) dengan investasi US$ 2,7 mliar (Rp 45 triliun) di Kalimantan Utara (Kaltara).
Dia mengatakan, saat ini proyek PLTA Mentarang Induk masih dalam tahap awal konstruksi. “Saat ini progres pembangunan belum mencapai 25%," kata Direktur PT Kayan Hydropower Nusantara Andhi Marjono saat buka puasa bersama media di Jakarta, Rabu (19/3/2025).
Dia mengatakan, PLTA Mentarang Induk akan dilengkapi bendungan dengan ketinggian 235 meter atau tertinggi di Indonesia. "Targetnya, pada pertengahan tahun ini proyek bisa full speed, dan bisa beroperasi penuh pada 2030," kata dia.
Baca Juga
Pendapatan & Laba Alamtri Resources (ADRO) 2024 Turun, Ini Penjelasan Manajemen
Dia mengatakan, listrik dari PLTA ini akan dialirkan ke kawasan industri di Kalimantan Utara. PLTA ini dikelola oleh PT Kayan Hydropower Nusantara (KHN), dengan kepemilikan 50% Alamtri dan 50% oleh dua mitra lainnya, termasuk Sarawak Energy dari Malaysia.
Dia mengatakan, investasi proyek ini yang mencapai US$ 2,7 miliar mencakup pembangunan bendungan utama dan jaringan transmisi ke kawasan industri. Dari segi pendanaan, proyek ini didukung investor internasional, termasuk lembaga keuangan yang fokus pada proyek berkelanjutan.
Sementara PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) resmi berdiri sendiri setelah dipisahkan dari grup induk Adaro Energy Indonesia. Dengan pemisahan ini, Adaro mengonsolidasikan bisnisnya ke dalam tiga pilar utama, yakni energi, mineral, dan energi hijau melalui PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (sebelumnya Adaro Energy Indonesia Tbk/ADRO).
Dalam kesempatan yang sama, Direktur PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) Wito Krisnahadi menjelaskan bahwa perubahan ini bertujuan untuk memperjelas fokus bisnis setiap entitas.
"Saat ini, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk sudah berdiri sendiri sebagai perusahaan yang terpisah, dengan manajemen baru yang benar-benar berbeda bisnisnya," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (19/3/2025).
Baca Juga
Alamtri Resources (ADRO) Cetak Laba Bersih Rp 22,29 Triliun pada 2024
Dalam pengembangan bisnisnya, Adaro Minerals kini fokus pada pengembangan aluminium smelter di Kalimantan Utara. Wito menargetkan produksi tahap awal dapat dimulai pada Desember 2025. "Kami berharap dalam tahun ini 72 pot pertama bisa mulai produksi, dan ramp-up produksi akan berlanjut hingga 2026," ujarnya.
Sementara Presiden Direktur PT Adaro Power Dharma Djojonegoro menegaskan bahwa Alamtri akan fokus pada energi terbarukan dan mineral. "Kami benar-benar terpisah dari bisnis batu bara. Bahkan kantor kami pun akan dibuat terpisah dengan membangun sekat," katanya.
Saat ini, proyek-proyek energi terbarukan Alamtri masih berjalan, beberapa di antaranya menunggu regulasi pemerintah. Salah satu proyek yang sudah berjalan adalah pembangkit tenaga surya terapung (floating solar) di Jatiluhur, yang dahulu pernah menjadi proyek PLTS terapung terbesar di Indonesia. "Kami juga sedang mengembangkan proyek 8 MW untuk ekspansi solar. Selain itu, ada proyek PLTA Mentarang Induk," kata Dharma.

