Pertamina Targetkan Volume Intake Kilang Meningkat 3%, Ini Program Strategisnya
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina (Persero) menargetkan peningkatan volume intake kilang mereka sebesar 3% tahun 2025. Volume intake kilang di tahun 2024 sebanyak 323 juta barel, dan tahun ini ditargetkan meningkat menjadi 334 juta barel.
Wakil Direktur Utama Pertamina Wiko Migantoro menyebut, peningkatan target volume intake kilang ini sejalan dengan pertumbuhan demand. Pihaknya juga sudah memiliki program kerja strategis yang akan dilaksanakan di 2025, untuk mewujudkan target tersebut.
“Program kerja strategis yang akan kami laksanakan adalah melakukan optimasi pengadaan feedstock dan penjualan produk kilang. Selain itu, memaksimalkan penyerapan crude domestik, kemudian program peningkatan yield kilang serta cost efficiency dan pengembangan proyek RDMP (Refinery Development Master Plan),” ujar Wiko dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, Jakarta, Selasa (11/03/2025).
Baca Juga
Fitch Pertahankan Peringkat Indonesia BBB Outlook Stabil, Mengapa?
Kurangi Impor LPG
Wiko menerangkan apabila pengembangan proyek RDMP di Balikpapan selesai akan mampu meningkatkan yield valueable produk kilang Pertamina secara rata-rata. Selain itu akan mengurangi impor.
“Selain itu, juga bisa menghasilkan produksi turunan berupa LPG. Ini tentunya akan bisa menolong mengurangi impor LPG,” ujar dia.
Baca Juga
Asing dan Orang Kaya Buru SBN dan Net Sell Saham, Dampaknya?
Sejalan dengan pelaksanaan turnaround dan perbaikan di kilang Balikpapan, volume intake kilang Pertamina di 2024 mengalami penurunan dibanding 2023. Ini dari sebelumnya 341 juta barel di tahun 2023 menjadi 323 juta barel di tahun 2024.
Kendati demikian, Pertamina berhasil meningkatkan yield valuable yang sebelumnya bernilai 82,9% menjadi 83,2% di tahun 2024. Yield valuable product adalah kemampuan suatu kilang menghasilkan produk yang bernilai tinggi di atas harga beli dari bahan baku.
“Ini merupakan tren positif bagi kilang kita yang cukup kompetitif bila dibandingkan dengan kilang di dunia, dari sisi kinerja operasional. Namun, ada parameter lain yang menjadi penentu nilai kilang yaitu perolehan dari intake kilang tersebut,” ujar Wiko.

