Pasar Smartphone Indonesia Naik 15,5% di 2024, Segmen Entry Level Paling Cuan!
JAKARTA, investortrust.id - Pasar telepon pintar (smartphone) di Indonesia bertumbuh pesat mencapai 15,5% secara tahunan (YoY) pada 2024 menjadi hampir 40 juta unit. Kenaikan ini didominasi oleh segmen entry-level yang menawarkan spesifikasi mumpuni dengan harga terjangkau.
Berdasarkan laporan International Data Corporation (IDC) Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker yang dikutip Senin (24/2/2025), pasar smartphone di Indonesia tumbuh 9,6% pada kuartal keempat 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, dibandingkan kuartal sebelumnya, pertumbuhan pasar relatif stagnan dengan penurunan tipis sebesar 0,2% secara kuartalan (QoQ).
Setelah mengalami penurunan dalam beberapa kuartal sebelumnya, vendor berhasil mencatat kinerja yang kuat terutama pada paruh pertama 2024. Meski begitu, laporan IDC juga mencatat bahwa permintaan konsumen mulai melambat akibat kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Baca Juga
Market share Transsion (pemilik merek Infinix, Itel, dan Tecno) mencetak rekor tertinggi di 2024 dengan pangsa pasar 18,3%, tumbuh 61,7% YoY. Oppo (termasuk Realme) berada di posisi kedua dengan pangsa pasar 17,8%, naik 7,6% dari tahun sebelumnya.
Di posisi ketiga, Samsung mencatat pangsa pasar 17,2%, turun tipis 0,6% dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, Xiaomi menempati posisi keempat dengan pangsa pasar 16,5%, tumbuh 28,4%. Vivo melengkapi lima besar dengan pangsa pasar 15,3%, naik 2,3% YoY.
Merek Terpopuler
Selain pangsa pasar berdasarkan penjualan, laporan IDC juga mencatat lima merek paling populer di Indonesia pada 2024. Transsion menguasai pasar dengan pangsa 19,8% dan pertumbuhan 27,1%, diikuti oleh Xiaomi yang mencapai pangsa 17,5% dengan pertumbuhan serupa.
Vivo berada di posisi ketiga dengan pangsa 17% dan kenaikan 19,1%, sementara Samsung turun 6,2% menjadi 16,6%. Oppo menutup daftar lima besar dengan pangsa 14,8%, naik 2,2% dari tahun sebelumnya.
Baca Juga
Pandu Sjahrir Sebut Setoran Awal Danantara Berasal dari Dividen BUMN dan Kemenkeu
Pertumbuhan pasar smartphone di Indonesia pada 2024 banyak didorong oleh ponsel entry-level dengan harga di bawah US$ 100 (sekitar Rp 1,6 jutaan). Segmen ini didominasi oleh Transsion melalui merek Infinix, Itel, dan Tecno. Sementara itu, di segmen mid-range dengan rentang harga US$ 200 - US$ 600 (sekitar Rp 3,2 - Rp 9,8 jutaan), Oppo masih menjadi pemimpin pasar.
Harga rata-rata smartphone di Indonesia cenderung stabil, turun hanya 0,5% YoY, dengan ASP (Average Selling Price) mencapai US$ 195 (sekitar Rp 3 jutaan) pada 2024. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ponsel entry-level mendominasi pertumbuhan, permintaan untuk smartphone dengan harga lebih tinggi masih tetap ada meskipun mengalami penurunan.
Pangsa Pasar 5G
Pangsa pasar 5G di Indonesia melonjak signifikan, naik menjadi 25,8% pada 2024 dibandingkan 17,1% di 2023. Peningkatan ini didorong oleh banyaknya peluncuran model baru serta semakin terjangkaunya perangkat 5G.
Samsung masih menjadi pemimpin di segmen ini, meskipun Oppo mulai mendekati posisi tersebut menjelang akhir tahun. Selain itu, harga rata-rata smartphone 5G turun drastis sebesar 20,4% YoY, mencapai US$ 441 (sekitar Rp 7,2 jutaan) pada 2024. Penurunan harga ini membuat smartphone 5G semakin terjangkau, sehingga meningkatkan adopsi teknologi ini di Indonesia.
Baca Juga
Bukan 7 Perusahaan, Danantara Bakal Kelola Aset Seluruh BUMN Senilai US$ 900 Miliar
Meskipun pasar smartphone menunjukkan pemulihan di 2024 setelah beberapa tahun mengalami penurunan, kondisi pasar masih belum sepenuhnya stabil. Konsumen dinilai tetap berhati-hati dalam melakukan pembelian di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global.
"Konsumen terus merasa cemas di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi global. Pertumbuhan saat ini lebih banyak didorong oleh pasokan vendor, sementara permintaan masih lesu," ujar Vanessa Aurelia, Analis Riset IDC Indonesia.
Menurut Vanessa, pertumbuhan smartphone di Indonesia pada 2025 diperkirakan akan melambat dengan angka pertumbuhan yang lebih rendah. "Pertumbuhan diperkirakan akan berada di kisaran angka satu digit yang lebih rendah untuk 2025," tutupnya.(c-13)

