Misbakhun Yakin Danantara Akan Kerek Harga-harga Saham di Bursa Efek
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun meyakini keberadaan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan mengerek harga-harga saham di bursa efek. Danantara dia yakini akan membuat investor masuk ke pasar dalam negeri.
“Saya yakin itu akan memberikan sebuah rebound terhadap harga-harga saham di bursa,” kata Misbakhun, di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Kamis (20/2/2025).
Saat ini, Misbakhun menjelaskan, pasar menunggu mekanisme yang akan ditentukan pemerintah bagi Danantara. Setelah posisi Danantara dan tugas-tugasnya dipaparkan dengan jelas, dia optimistis pasar akan memberi arah yang positif.
Misbakhun mengatakan keberadaan Danantara akan mendorong kinerja BUMN ke depan. Sebab, BUMN akan mampu menjalankan bisnis yang lebih besar.
“Saya yakin, kalau BUMN kita operasionalkan sesuai dengan core competence mereka, market akan memberikan respons positif,” kata dia.
Baca Juga
Ketua DEN: Suntikan Dana Pemerintah ke Danantara Bisa Mencapai US$ 25 Miliar
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai, BUMN yang dikelola Danantara bukan hal yang lazim terutama pada sektor perbankan. Untuk itu, dia meminta pemerintah memperhitungkan potensi risiko yang akan muncul bila kebijakan tersebut dilanjutkan.
“BUMN yang dikelola Danantara memang bukan hal yang 'kaleng-kaleng' dengan portofolio yang cukup mentereng, terutama dari sisi perbankan. Terlebih di antaranya merupakan BUMN penerima Public Service Obligation (PSO),” kata Nailul saat dihubungi investortrust.id, Kamis (7/11/2024).
Dia juga menilai, pengelolaan aset BUMN di Danantara akan sangat krusial ke depannya. Nailul menyebut pelaku pasar melihat risiko yang cukup besar pada pengelolaan aset oleh Danantara. Terbukti, harga beberapa saham BUMN di Bursa Efek Indonesia (BEI) merosot dengan grafik merah.
Pada tahap awal, aset BUMN yang akan dikelola Danantara disebut meliputi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID.
Menurut Nailul, penurunan harga saham emiten BUMN disebabkan investor khawatir pengelolaan aset oleh Danantara akan penuh dengan intervensi pemerintah yang terlampau dalam. “Saya juga melihat ada singgungan antara Danantara dengan Indonesia Investment Authority (INA) di mana mereka mengelola investasi milik pemerintah,” sambungnya.
Baca Juga
Anggaran PU Tersisa di Rp 50,48 Triliun, Pakar Sarankan Danantara Suntik Proyek Infrastruktur
Sebagaimana INA, Nailul percaya ada Lembaga Pengelola Investasi yang juga sudah terbentuk lebih dulu dan eksis atau lebih dikenal masyarakat. Oleh karena itu, Danantara disebut berpotensi menimbulkan benturan kepentingan antara ketiga lembaga investasi yang terbentuk.

