Indef Lakukan Ini untuk Jaga Gagasan Mendiang Faisal Basri Tetap Mengalir
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom senior Faisal Basri telah tiada. Meski demikian, gagasannya terhadap ekonomi yang berkeadilan tak dibiarkan sirna. Langkah itu diwujudkan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dengan mendirikan perpustakaan bernama "Ruang Baca Faisal Basri".
Ruang Baca Faisal Basri berlokasi di sudut depan kantor Indef di Rawajati, Jakarta Selatan. Ruangan berukuran sekitar 3,5 x 3,5 meter tersebut didominasi buku-buku koleksi Faisal. Berbagai buku ditata di rak yang terpasang di dua sisinya.
Siti Nabila Azuraa Basri, anak kedua Faisal, bercerita, ayahnya memiliki berbagai koleksi buku. Tak hanya buku tentang ekonomi, tetapi buku bertema sejarah, politik, puisi, dan sastra. “Meski ekonom, ayah bekerja dengan interdisciplinary work,” kata Nabila, di Jakarta, Jumat (7/2/2025).
Baca Juga
Nabila menjelaskan, ada kekhasan buku-buku koleksi ayahnya. Selain karena usia, kertas di buku-buku tersebut tampak menguning. Ini terjadi karena kebiasaan Faisal yang membaca sembari merokok. “Buku-bukunya, banyak yang kuning karena asap rokok,” ucap dia.
Nabila mengenang ayahnya telah berkorban banyak untuk menyuarakan keadilan. Salah satu kutipan yang dia kagumi dari sang ayah, yaitu posisinya untuk negara dan bangsa.
“Hidup saya sudah dihibahkan untuk bangsa dan negara. Jika saya harus mati, jika saya harus remuk untuk memperjuangkan kebenaran ini, saya ikhlas. Teman-teman Indef untuk sekarang, jangan dahulu ikut saya,” ujar dia dengan suara bergetar.
Bagi Nabila, perjuangan Faisal menyuarakan keadilan dan kesejahteraan sosial memunculkan kesan tersendiri. “Saya bangga bisa jadi anaknya dan punya sosok ayah seperti itu,” ujar dia.
Tak hanya bagi Nabila, pemikiran Faisal juga begitu kokoh. Salah satu pendiri Indef dan ekonom senior Fadhil Hasan menyebut, Faisal pernah menolak proyek besar saat awal-awal lembaga tersebut berdiri. Alasannya, proyek tersebut dapat membuat kredibilitas Indef buruk. “Itu menunjukkan Faisal konsisten dalam berpikir dan bertindak serta berhati-hati,” ucap dia.
Baca Juga
Sosok Faisal Basri di Mata Sofyan Djalil: Penyuara Hati Nurani
Meski dikenal sebagai sosok tegas dalam berargumen, Fadhil mengatakan, Faisal Basri sebetulnya memiliki hati lembut. Hal itu tampak ketika Faisal sedih melihat ekonom senior Universitas Gadjah Mada (UGM) Boediono yang kala itu menjadi menteri keuangan, disebut seorang liberal karena mencabut subsidi BBM.
Bagi Fadhil, pemikiran Faisal tak condong terhadap satu mazhab ekonomi. Faisal lebih cocok mirip pemimpin China, Deng Xiaoping. “Tak peduli kucing hitam atau putih, yang penting bisa tangkap tikus,” ucap dia.

