Saat Mayapada Healthcare Menapak ke Layanan Medis Tingkat Global Bersama Apollo
JAKARTA, investortrust.id - Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India sebagai Chief Guest di perayaan 76th Republic Day of India pada akhir Januari 2025, membawa cerita istimewa bagi PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk atau Mayapada Healthcare.
Di sela pertemuan kedua kepala negara, Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi, digelar sejumlah seremoni penandatanganan kerja sama kedua negara, yang salah satunya di sektor layanan medis atau kesehatan. Pada tanggal 25 Januari 2025, Chairman dan Group CEO Mayapada Healthcare Jonathan Tahir menandatangani nota kesepahaman untuk membentuk layanan kesehatan berskala global di Indonesia, dengan Joint Managing Director Apollo Hospital Sangita Reddy, di New Delhi, India.
Prosesi penandatanganan nota kesepahaman ini juga disaksikan oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin.
Kerja sama ini tidak hanya mengenai pengembangan sektor kesehatan Tanah Air. Lebih dari itu, kerja sama Mayapada Healthcare dengan Apollo Hospital ini akan menjadi game changer bagi standar layanan kesehatan internasional, pengembangan sumber daya manusia di bidang medis, dan teknologi pendukungnya.
Kolaborasi antara Mayapada Healthcare dengan Apollo Hospital ini rencananya akan diwujudkan dengan ground breaking Mayapada Apollo Batam International Hospital (MABIH) yang akan dimulai pada April 2025.
Baca Juga
Emiten Pengelola Mayapada (SRAJ) Ini Ungkap Target Tahun 2025, Apa Saja?
Tim Investortrust.id berkesempatan mewawancarai Jonathan di kantornya, Mayapada Tower, kawasan Jalan Sudirman, Jakarta, Kamis (6/2/2025). Jonathan tampil santai menjawab pertanyaan yang dilontarkan Investortrust.id. Berikut petikan wawancaranya,
Pada 25 Januari, Mayapada Healthcare menandatangani kerja sama dengan Apollo Hospital India. Mengapa memilih Apollo Hospital?
Sekitar dua tahun lalu, kami sedang mencari sebuah partner untuk rumah sakit internasional di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam. Kami mengevaluasi beberapa opsi dan mengidentifikasi sebetulnya India merupakan sebuah negara yang menarik. Kami lihat, India itu adalah super power. Tidak seperti China dan Amerika Serikat (AS), super power ini lagi nggak berantem. Jadi risikonya lebih lebih kecil.
Kedua, kami juga melihat India negara dengan populasi terbesar di dunia, 1,4 miliar penduduk dan memiliki keunggulan teknologi. Mereka juga punya kualitas medis yang terbaik.
Kami memilih Apollo Hospital karena rumah sakit swasta itu terbesar di India dengan 75 rumah sakit dan 10 ribu dokter. Jadi saya lihat ini merupakan sebuah opsi yang sebetulnya sangat logis dan saya lihat ini pun juga momentumnya sangat bagus karena di bawah era Presiden Bapak Prabowo, dia banyak merangkul negara-negara yang belum menjadi fokus untuk kerja sama utama.
Hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Narendra Modi juga sangat bagus, diundang jadi chief guest. Satu hal yang menarik. Sekitar 75 tahun lalu, state day pertama India, guest of honor-nya adalah Presiden Soekarno.
Ke depan kami pun berharap bisa mengirim tenaga medis ke India.
Momentum kerja sama ini muncul saat Presiden Prabowo diminta menjadi tamu kehormatan di Republic Day India, pendekatan sudah dilakukan sejak lama dengan Apollo?
Saya pikir ini sebuah kebetulan. Memang waktunya pas. Jadi menurut saya ini memang timing-nya nggak ada yang bisa prediksi. Timing-nya sangat bagus dimana Presiden Prabowo menjalankan hubungan kerja sama dengan India. Tapi diskusi kami dengan Apollo sebenarnya sudah intens. Karena kami berkomunikasi hampir setahun lebih dengan mereka.
Apa yang bisa dibaca dari pertemuan dua Kementerian Kesehatan saat proses penandatanganan?
Saya lihat dari pertemuan Perdana Menteri Modi dengan Presiden Prabowo ini efeknya itu bisa kelihatan ke bawah. Bahwa mereka komitmen ingin mempererat hubungan ini. Jadi peran dua Kemenkes dari India dan Indonesia itu sangat baik.
Kemenkes Indonesia mengatakan akan mengakomodasi dokter dari India untuk bisa masuk ke Indonesia. Sementara, Kementerian Kesehatan India akan mengizinkan dan mempermudah dokter Indonesia untuk hands on training (praktik secara langsung). Itu merupakan permintaan khusus yang disampaikan Perdana Menteri Modi.
Jadi menurut saya ini memang from top down, momentum sangat bagus, dan kalau bos-bos besar sudah bilang “Oke” kami di bawah tinggal lakukan saja.
Kami juga sudah memberikan laporan kepada Pak Presiden. Mengenai groundbreaking kami tiga bulan lagi (April 2025), kami berharap semua bisa lancar dan progress-nya bisa bagus dan kami bisa mempercepat pelayanan terbaik lagi kepada masyarakat Indonesia.
Setelah penandatanganan nota kesepahaman, langkah apa yang akan dilakukan di KEK Batam?
Ada dua fokus utama dari kerja sama ini. Pertama, mengenai SDM. Bagaimana kami dapat meningkatkan kualitas SDM. Kami akan mengirim dokter, perawat, tenaga medis ke India untuk belajar. Tidak hanya belajar teori tapi juga bisa hands on training.
Kedua, nanti sejalan dengan pembukaan Mayapada Apollo Batam International Hospital (MABIH), Apollo pun juga akan mengirim dokter dan perawat. Apollo sudah komitmen mengirim 1.000 dokter dan perawat ke Mayapada. Ini sebuah angka yang fantastis karena kami akan mendapatkan yang terbaik dari India. Knowledge transfer dengan dokter-dokter lokal kami.
Baca Juga
Cegah Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Mayapada Healthcare (SRAJ) Gandeng Apollo India
Setelah di Batam MABIH akan hadir di KEK lainnya?
Sekarang fokus utamanya di Batam dulu. Kami pilih Batam karena lokasinya yang menarik. Sebab, target kami bukan hanya mendatangkan pasien dari seluruh Indonesia, namun juga bisa menahan devisa keluar negeri.
Kami juga bisa menarik masyarakat dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia untuk bisa masuk ke Batam karena produk offering di Batam sangat menarik. Selain dokter asing, standar pelayanan dan kualitas dari Mayapada dipastikan sangat bagus.
Kedua, keuntungannya. Di KEK Batam, kami mendapatkan cost savings dari pembangunan dan impor. Jadi harusnya obat-obatan bisa lebih murah. Dengan begitu, kami bisa memberikan pelayanan kesehatan yang as good as Jakarta, tapi lebih murah.
Apakah nanti yang diberikan oleh MABIH sama kompetitifnya dengan para kompetitor di Penang, Malaysia dan Singapura?
Harapan saya adalah (biayanya) harus lebih rendah dari Jakarta. Kami juga berharap bisa bersaing dengan Malaysia dalam costing. Kalau Singapura memang sudah mahal, level super premium. Tapi saya berharap, kita bisa menarik pasien dari Singapura karena cost (kesehatan) di Singapura sudah sangat mahal. Mereka juga tinggal naik feri, 30 menit sudah sampai ke Batam. Jadi cost proposition ini menurut saya menarik.
Bagi warga domestik, tentu preferensi mereka akan ke Batam, karena masih di wilayah Indonesia dan dilayani dengan standar kenyamanan lokal Kalau di luar negeri, untuk dua pekan masa perawatan misalnya, akan banyak faktor yang mengganggu, seperti kenyamanan.
Kapan groundbreaking, dan bagaimana rencana pengembangan fisiknya MABIH ?
Ini harus jadi rumah sakit berskala internasional. Kami mencari arsitek bertaraf internasional karena memang kami harus bisa “menjual”.
Kedua, groundbreaking rencananya dalam 3 bulan ke depan. April 2025. Semoga bisa lebih cepat dan kami rencanakan di akhir 2026 sudah bisa buka. Jadi kami punya target dalam 1,5 tahun sampai 2 tahun kami bisa membuka layanan.
Arsitek itu prasyarat dari Apollo?
Tidak. Tapi ini nice to have. Dan kami pun akhirnya menilai arsitek yang pernah kerja dengan proyek Apollo juga. Karena mereka sudah biasa bangun rumah sakit dengan mereka lain.
Siapa yang akan mengembangkan?
Nanti kami disclosed aja. Kami sudah mulai appoint.
Apakah MABIH nanti akan menawarkan sebuah layanan khusus yang lebih advance dibanding rumah sakit-rumah sakit lainnya?
Spesialisasi bakal ada semua. Tapi fokus utama kami adalah kardiologi, jantung, dan onkologi atau penanganan kanker.
Saya lihat bahwa ini adalah dua spesialisasi yang memang market-nya sangat besar dan tidak semua rumah sakit mampu menangani itu. Jadi kami yakin bahwa kami bisa menjadi satu yang terbaik di Indonesia buat dua spesialisasi tersebut.
Otomatis investasi kami juga akan besar di sini. Oleh karena itu, kami harus memastikan alat medis yang dimiliki itu yang terbaru dan tercanggih. Ini perlu supaya kami bisa bersaing dengan rumah sakit di negara tetangga dan juga bisa bersaing dengan rumah sakit lain.
Pengembangan rumah sakit berskala internasional ini pasti membutuhkan investasi yang besar, berapa yang dikeluarkan Mayapada?
Kami sudah budget-kan sekitar Rp 1,5 triliun sampai Rp 2 triliun. Ini akan kami investasikan di MABIH ini dan kami beruntung bisa memenuhinya dari kas internal.
Tanpa perlu menangguk dana dari pasar modal?
Ini bertepatan dengan masuknya investasi dari salah satu private equity terbesar di dunia, dari AS, Desember lalu. Mereka sudah berinvestasi di Mayapada Group. Dan sebagian dari dana tersebut salah satunya akan ke MABIH
Apakah nanti Mayapada Healthcare juga punya keleluasan juga membuka cabang di India misalnya?
Itu rasanya bukan dalam agenda kami berdua. Karena sudah jelas mereka di India sangat besar dan mereka fokusnya di India. Kami pun juga hanya di Indonesia karena pangsa pasar domestik juga besar. Tapi yang mereka lihat adalah mendapatkan kasus penyakit yang unik.
Baca Juga
Resmikan Mayapada Hospital Nusantara di IKN, Jokowi: Berstandar Internasional
Misalnya?
Misalnya, mungkin sebuah penyakit yang sangat langka. Mereka sangat tertarik karena itu bagus buat penelitian mereka.
Mereka negara dengan penduduk 1,4 miliar. kita (penduduknya) 300 juta. Jadi otomatis pasti ada keunikan di Indonesia yang nggak ada di sana. Itu yang pasti mereka cari. Mereka ingin mendapatkan sebuah exposure yang mereka belum pernah dapatkan sebelumnya. Jadi, mereka menyebut, “penyakit yang nggak bisa tertangani, yang super rare, yang belum pernah kalian lihat, silakan dikirim ke kami.”
Ada beberapa kasus pasien, mereka mau berobat ke Singapura dan Malaysia tapi sudah nggak bisa tertangani. Tapi, ketika di Apollo aman. Sembuh.
Bicara layanan kesehatan di Indonesia kompetisinya cukup ketat ya? Ada strategi khusus Mayapada Health Care di MABIH?
Di industri yang lagi panas seperti kesehatan ini, dengan prospek yang sangat bagus ke depannya, otomatis tantangannya juga banyak. Kompetisinya makin besar karena makin banyak orang mau investasi dalam health care. Dengan kompetisi ini akan ada dua hal yang terjadi. Satu, cost-nya akan naik. Apakah itu karena perekrutan dokter, atau perekrutan orang.
Kedua adalah perebutan SDM. Masalah terbesar kita adalah SDM. SDM itu bukan hanya dokter, tapi itu juga termasuk perawat dan apoteker. Terakhir, jangan lupa manajemen rumah sakit akan semakin ketat. Jadi mengapa kami kerja sama dengan Apollo, yaitu fokus ke SDM. Kalau kami punya SDM dan dapat upgrade SDM dengan bantuan Apollo, ini akan menjadi competitive advantage dalam persaingan.
Bagaimana penyerapan tenaga medis dari dalam negeri? Ada kuota?
Kami tidak bicara masalah kuota. Tapi kami juga sadar. Untuk jangka panjang kami memang harus bisa bergantung kepada diri sendiri. Kami nggak bisa tergantung dengan satu mitra selamanya. Jadi, kami juga berekspansi. Kami memiliki sekolah akademi keperawatan karena ke depan perawat itu sangat penting dan dibutuhkan.
Apollo, adalah jump start untuk sebuah loncatan pertama. Tapi untuk sustainable, kami harus memastikan bahwa kualitas SDM tenaga medis harus di-upgrade. Jadi concern untuk bisa mengirim dokter dan perawat kami ke Apollo itu sangat penting. Ini agar dokter lokal mengambil inisiatif untuk benar-benar belajar.
Sebetulnya, yang memperbedakan dokter di Indonesia dengan dokter dari India itu adalah volume kasus. Dokter dari India melihat 5-10 kali lipat volume kasus lebih banyak. Jadi industri kesehatan seperti pabrik. Karena banyak sekali volumenya, itu yang membuat mereka benar-benar terampil.
Volume yang besar akan menggerus pelayanan? Bagaimana memadukannya?
Jadi SDM kami harus bagus agar pelayanannya juga bagus. Tapi juga harus ditopang dengan teknologi.
Kami mengembangkan dua proyek dengan Apollo salah satunya teleradiologi. Jadi semua hasil pemindaian, X-ray, MRI, dan CT scan akan kami kirim ke India. Dalam 4 jam mereka akan kirim balik hasilnya. Hasil itu sudah mereka verifikasi dulu. Ini akan memberikan akurasi dan kecepatan. Radiologi yang kami miliki di sini akan terbantu dari hasil screening di sana.
Kedua adalah layanan tele-ICU. Apollo dengan 75 rumah sakit, memantau pasien ICU dengan pusat komando (command center) secara online.
Mereka bisa melihat hasil data statistik dari pasien tersebut dan menginformasikan ke petugas medis, pasien mana yang perlu ditangani. Nah itu yang kami harapkan bisa direplikasi untuk pasien ICU di Mayapada agar lebih akurat dan cepat.
Tele-ICU ini belum ada sebelumnya di Indonesia? Itu akan dilakukan di MABIH?
Itu akan dilakukan langsung di rumah sakit Mayapada. Tele-ICUi tu akan kami mulai dari tahun ini. Yang di MABIH itu kami hanya tunggu buat dokter asing masuk ke sana.
Banyak inisiatif yang baru-baru ini muncul dan akan mulai kami lakukan dari sekarang. Kami nggak mau tunggu lagi sampai dua tahun lagi. Apollo pun juga akan membantu mengirimkan manajemennya untuk menganalisa apa saja kekurangan dan meningkatkan pelayanan. Ultimately, yang menang adalah para pasien.

