Indonesia Tetap Komitmen dengan Paris Agreement meski AS Keluar, tetapi…
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia tetap berkomitmen dengan Perjanjian Paris (Paris Agreement), meski Amerika Serikat (AS) resmi menarik diri setelah dilantiknya Donald Trump sebagai presiden. Namun, pemerintah tetap melakukan kajian.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan, keluarnya AS diprediksi akan memberi dampak terhadap banyak sektor. Untuk itu, Indonesia perlu memikirkan antisipasi pada berbagai hal.
Baca Juga
Pemerintah Bidik EBT Sumbang 79% Kelistrikan, Ini Energi yang Bakal Digenjot
“Kalau komitmen kita di Paris Agreement, itu kan tetap akan diusahakan. Namun, bagaimana dampak-dampaknya, kita masih lakukan kajian. Itu kan baru disampaikan dengan Presiden Trump,” kata Yuliot saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (23/1/2025).
Disampaikan Yuliot, saat ini Indonesia belum bisa mengambil keputusan. Namun, pemerintah bakal melihat kebijakan yang menguntungkan masyarakat dan negara. Untuk saat ini, pemerintah tetap berkomitmen mengejar target bauran energi baru terbarukan (EBT) dalam upaya mewujudkan net zero emission (NZE) pada 2060.
Baca Juga
Wujudkan Indonesia Emas, MIND ID Perkuat Hilirisasi dan Industrialisasi
Dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2025-2060, kapasitas pembangkit listrik pada 2060 ditargetkan mencapai 443 gigawatt (GW), dengan 79% di antaranya berasal dari EBT. “Jadi kita target bauran energi itu kan tetap. Nanti bagaimana yang terkait teknologi. kita akan menyesuaikan,” ucap Yuliot.

