Prabowo Panggil Jajaran Menteri Bidang Ekonomi, Bahas Nasib Program Gas Murah
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri bidang ekonomi ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (21/1/2025). Para menteri tersebut akan menghadiri rapat terbatas atau ratas yang membahas mengenai nasib program gas murah atau harga gas bumi tertentu (HGBT).
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui ratas kali ini membahas mengenai kelanjutan HGBT. Dikatakan, program tersebut akan dilanjutkan dan diperluas.
"Nanti sektornya akan dibahas. Akan diperluas," katanya.
Baca Juga
Menperin Agus Minta Program Gas Murah segera Dilanjutkan, Sejumlah Industri Menjerit
Namun, Airlangga belum dapat mengungkap sektor yang akan mendapat manfaat dari program gas murah. Hal ini lantaran materi tersebut akan dibahas dalam ratas hari ini.
"Ya nanti akan kita bahas," katanya.
Selain Airlangga, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang juga telah hadir di Istana Kepresidenan.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membocorkan sebanyak tujuh subsektor industri masih akan menerima manfaat harga gas bumi tertentu (HGBT) alias gas murah. Kebijakan tersebut dipastikan berlanjut tahun 2025.
Sebagai informasi, tujuh subsektor industri yang mendapatkan manfaat HGBT tahun lalu adalah industri pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet. Ketujuh subsektor industri tersebut bisa mendapatkan gas di bawah harga pasar, yakni senilai US$ 6 per MMBTU.
Sekarang kalau dari tujuh (subsektor industri) itu rasanya hampir bisa dapat dipastikan untuk dilanjutkan,” kata Bahlil saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM, Kamis (16/1/2025).
Dia mengungkapkan, pihaknya telah melakukan rapat Rabu (15/1/2025) untuk membahas kelanjutan program HGBT ini. Program HGBT ini bertujuan agar sektor industri bisa kompetitif dengan bantuan subsidi yang diberikan.
“HGBT kan filosofinya adalah bagaimana proses nilai tambahnya ada di dalam negeri. Jadi gas dijadikan sebagai bahan baku substitusi impor. Agar industri itu bisa kompetitif, maka diberikan HGBT,” ucap Bahlil.
Kendati demikian, Bahlil tidak memungkiri bahwa ada usulan dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk memperluas subsektor industri yang menerima manfaat HGBT tersebut. Hal ini sedang dikaji pemerintah.
Baca Juga
Bahlil Bocorkan 7 Subsektor Industri Tetap Dapat Manfaat Gas Murah (HGBT), Termasuk Petrokimia
Bahlil memaparkan, implementasi program HGBT selama periode 2021-2024 membuat pendapatan negara terkonversi sebesar Rp 67 triliun. Oleh karena itu, dia ingin penyaluran HGBT ini tidak dilakukan sembarangan.
“Jadi jangan sampai semua gas kita kasih ke HGBT, negara enggak dapat pendapatan. Jadi kita hitung betul. Siapa harus kita kasih, tetapi dia harus industri yang menciptakan lapangan pekerjaan, terus gas itu menjadi bahan baku, terus dia harus mengonversi ke PPN atau PPH. Ini yang kita lagi hitung,” beber dia.

