Ketum Kadin Anindya: Ekonomi Dunia Tak akan Mulus di 1 Tahun ke Depan, Tapi Fundamental Indonesia Kuat
JAKARTA, Investortrust.id – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mengakui bahwa perekonomian dunia dan Indonesia dalam satu hingga satu tahun setengah ke depan masih akan mengalami ketidakstabilan atau mengalami riak (choppy).
“Saya gak akan bohong mengatakan, bahwa dalam waktu 1 tahun, 1 tahun setengah ini Choppy. Pasti choppy. Karena kalau kita lihat di US, is very very attractive,” kata Anindya Bakrie pada kesempatan Investor Network Summit 2024 yang digelar PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia di Jakarta, Kamis (5/12/2024).
Menurutnya, kondisi geopolitik yang tengah diwarnai sejumlah perang di beberapa negara, khususnya Timur Tengah, membuat mata uang dolar AS dipandang sebagai safe haven. Belum lagi kembali terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS yang akan menerapkan kebijakan proteksionisme, bakal meningkatkan kepercayaan publik investor dunia pada kekuatan mata uang dolar AS.
“Jadi pasti akan choppy. Tapi the good thing is, fundamentally I think we are strong. And strong fundamentals only look stronger, during turbulence,” kata Anindya memberikan semangat para pelaku pasar modal di event tersebut.
Baca Juga
Setidaknya, kata Anindya, tingkat inflasi berada pada level yang relatif lunak di angka 1,55% year on year pada November 2024. Surplus perdagangan pun menurutnya masih akan memiliki kecenderungan peningkatan.
“Walaupun saya catat disitu masih banyak (surplus perdagangan dari komoditas, red), ada palm oil, ada coal. Tapi sudah mulai dengan hilirisasi, stainless steel dan lain-lain. Nah yang penting nih, fiscal strength,” tuturnya. Pasalnya, lanjut Anindya, rasio debt to GDP itu masih bisa dibilang sangat sehat.
Sekadar informasi, rasio utang per akhir Oktober 2024 yang tercatat 38,66 persen terhadap PDB, tetap konsisten terjaga di bawah batas aman 60 persen PDB sesuai UU Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara.
Ia juga memuji kebijakan pemerintahan Prabowo yang selain ingin memberikan keadilan kepada masyarakat agar benar-benar sejahtera, tapi juga ada shifting strategy untuk membangun soft infrastructure, seperti program makan bergizi gratis yang dianggap sebagai investasi untuk masa depan lewat terbentuknya sumber daya manusia yang sehat.
“Yang paling penting kan adalah gizi. Nah gizi ini, untungnya kan ada dua. Yang pertama tentunya yang paling mudah untuk investasi masa depan,” ujarnya. Berikutnya adalah program-program belanja pemerintah juga akan difokuskan pada kesehatan dan pendidikan.
“Ini multiplier effect-nya akan sangat besar,” tandasnya.

