Bahlil Sebut 6 Provinsi Ini Bakal Jadi Prioritas Pembangunan Jargas
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menegaskan, program jaringan distribusi gas rumah tangga (Jargas) bakal didorong untuk mengatasi impor liquefied petroleum gas (LPG) yang sudah sangat besar. Bahlil menyebutkan, setidaknya terdapat enam provinsi yang menjadi prioritas dalam pembangunan jargas.
Keenam provinsi tersebut adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Jakarta, dan Yogyakarta.
“Maka strateginya adalah jargas kita harus bangun, khususnya daerah Jawa, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, DKI, Yogya. Ini yang menjadi prioritas,” ujar Bahlil dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR di Jakarta, Rabu (13/11/2024).
Dipaparkan olehnya, saat ini impor LPG Indonesia dalam satu tahun memakan subsidi hingga Rp 83 triliun. Tercatat, total konsumsi LPG mencapai 8 juta ton per tahun, sedangkan produksi dalam negeri hanya sekitar 1,9 juta ton.
Kementerian ESDM sendiri telah merencanakan untuk meningkatkan produksi LPG dalam negeri guna mengatasi persoalan impor tersebut. Namun, gas yang menjadi bahan baku pembuatan LPG, yaitu yang mengandung propana (C3) dan butana (C4) ternyata masih kurang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Kalau kita impor terus, kemudian kita tidak punya alternatif lain. Setelah saya cek ternyata gas yang untuk bahan baku LPG C3, C4, itu hanya bisa 1,5 juta ton sampai dengan 2 juta ton. Kita masih kekurangan kurang lebih sekitar 4 juta,” kata Bahlil.
Baca Juga
PGN dan BPH Migas Berkomitmen Masifkan Pembangunan Jargas Nasional
Maka dari itu, program jargas ini akan juga didorong oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Bahlil menyebut, bahwa rencana mendorong jargas ini sudah disampaikannya kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
“Ini sudah saya laporkan kepada Menteri Keuangan dan Bapak Presiden untuk dalam rangka mendorong kedaulatan energi, kita pakai saja dana dari PNBP untuk bisa kita bangun (jargas). Karena kalau kasih ke swasta, saya tidak tahu satu periode pemerintahan bisa selesai atau tidak,” ucap dia.
Bersamaan dengan itu, Bahlil juga mengatakan kalau akan membangun pabrik LPG yang kapasitasnya sekitar 1,5 juta-2 juta ton. “Jadi kita dorong dua. Pertamina kita suruh dorong bangun. Kalau tidak, kita dorong juga swasta, agar mereka bisa melakukan kompetisi,” beber mantan Menteri Investasi itu.

