Unilever Food Solutions Buka-bukaan Soal Penurunan Daya Beli di Bisnis Makanan
JAKARTA, investortrust.id - Dalam beberapa waktu terakhir, daya beli masyarakat khususnya kelas menengah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Meski begitu, Unilever Food Solutions (UFS) mengklaim fenomena ini tak mengganggu bisnis perusahaan.
Managing Director UFS Gemita Pasaribu mengungkapkan, fenomena penurunan daya beli tidak serta merta menurunkan kebutuhaan masyarakat untuk hal yang berkaitan dengan makanan. Pada kenyataannya yang terjadi di lapangan, masyarakat melakukan penyesuaian untuk pengeluarannya.
“Kan ada juga fenomena makan tabungan dan segala macam, jadi memang banyak rasionalisasi yang dilakukan oleh para penikmat kuliner,” ujarnya, ketika ditemui media, di Jakarta, Senin (4/11/2024).
Namun menurut Gemita, ada jenis-jenis makanan tertentu yang akan dikorbankan masyarakat demi menyesuaikan terhadap pengeluarannya. Penyesuaian tersebut salah satunya dilakukan dengan pengurangan frekuensi untuk membeli makanan tersebut.
Baca Juga
Tanda Perbaikan Tak Tampak, Dua Sekuritas Ini Ikut Rekomendasi 'Sell' Saham Unilever (UNVR)
“Tapi secara overall di bisnis kita itu saling menutupi. Jadi ada yang turun di sebelah sini tapi ada yang naik di sebelah sini. Kita tahu lah kalau orang melakukan rasionalisasi spending, dia melakukan spending di sini tetap dia gak mau korbanin, tapi yang di sini dia turunin,” katanya.
Jadi, dikatakan Gemita, banyak prioritas-prioritas yang akhirnya direpresentasi oleh para konsumen di Indonesia, termasuk dalam hal pengalaman berkuliner.
Ia menyebut, hingga saat ini kinerja UFS bertumbuh positif. Namun ia tidak merinci berapa pertumbuhannya. “Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, kita growth healthy,” ucap Gemita.
Sekadar informasi, merujuk data Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2024 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi tercatat sebesar 0,03% secara bulanan. Hal ini secara langsung maupun tidak mencerminkan pelemahan daya beli masyarakat.
Baca Juga
Menteri ESDM Dorong Pemegang IUPK Eks PKP2B Lakukan Hilirisasi Batu Bara
Dengan itu, Indonesia saat ini mengalami deflasi selama empat bulan beruntun dari Mei hingga Agustus 2024. Di mana pada Mei deflasi sebesar 0,03%, Juni 0,08%, Juli 0,18%, dan Agustus 0,03%. Sejalan dengan itu, adapula fenomena masyarakat kelas menengah yang turun kelas di setiap tahunnya sejak 2019-2024.
BPS mencatat, jumlah penduduk kelas menengah mencapai 57,33 juta jiwa (21,45%) pada 2019, lalu 53,83 juta jiwa (19,82%) pada 2021, 49,51 juta jiwa (18,06%) pada 2022, 48,27 juta jiwa (17,44%) pada 2023, dan 47,85 juta jiwa (17,13%) pada 2024.

