Jurus Prabowo Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8%, Peremajaan Kapal Pertamina Harus dari Galangan Nasional
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto telah menyiapkan berbagai cara untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8% pada masa pemerintahannya. Salah satunya memerintahkan PT Pertamina (Persero) untuk menggunakan kapal-kapal buatan dalam negeri.
Perusahaan minyak dan gas (migas) plat merah itu melalui anak-anak usahanya diketahui akan meremajakan puluhan kapal pengangkutnya yang sudah berusia lebih dari 30 tahun.
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Hashim Djojohadikusumo mengatakan, Prabowo bakal memerintahkan Pertamina untuk mengganti kapal-kapal tua itu dengan kapal-kapal buatan dalam negeri. Dia menyebut ada 80 dari 300 kapal Pertamina yang sudah harus diremajakan.
Baca Juga
“Pak Prabowo sudah katakan dia mau affirmative action. Nanti Pertamina akan didorong untuk beli kapal-kapal dari dalam negeri. (Sebanyak) 80 kapal yang nanti harus dibeli oleh Pertamina itu dengan ukuran 17.500 GT (gross tonnage) itu semua bisa dibangun di Indonesia,” katanya di Menara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Jakarta Selatan, baru-baru ini, (Rabu, 23/10/2024).
Adik kandung Prabowo itu menyebut seluruh galangan kapal yang ada di Tanah Air akan mendapatkan pesanan dari Pertamina. Selain Pertamina, pemerintahan Prabowo juga meminta perusahaan BUMN lainnya yang akan melakukan pengadaan armada kapal untuk memesan ke galangan kapal di dalam negeri.
“Itu belum termasuk Pelni (PT Pelayaran Nasional Indonesia) baru Pertamina saja. Saya dengar ada 15 kapal yang ukuran 15 ribu ton, itu pun bisa dibangun di Indonesia," ungkapnya.
Sebagai catatan, sebagian besar kapal penumpang milik Pelni juga sudah berusia lebih dari 30 tahun. Sejauh ini, Pelni sudah mendapatkan Penyertaan Modal Negara (PMN) dari Cadangan Investasi Tahun Anggaran 2024 sebesar Rp1,5 triliun untuk pembelian tiga unit kapal penumpang baru.
Baca Juga
Indonesia Harus Genjot Sektor Pertanian dan Manufaktur Demi Capai Pertumbuhan Ekonomi 8%
Di sisi lain, Hashim tak menampik bahwa galangan kapal yang ada di Indonesia masih kalah kompetitif dari segi harga dibandingkan dengan galangan kapal di Korea Selatan dan China. Alhasil, perusahaan yang membutuhkan kapal di dalam negeri memilih untuk memesan dari galangan kapal di dua negara tersebut.
"Kita nanti harus lihat. Kawan-kawan Kadin Indonesia tolong ya bidang industri, ini yang mana yang bisa kita kurangi cost-nya dan banyak cost (biaya) itu dibuat oleh aturan manusia. Kalau manusia buat aturan, manusia bisa ubah aturan. So, ini aturan-aturan apa yang bisa kurangi cost of production (biaya produksinya),” tutur Hashim.
Hashim menambahkan pengadaan kapal lewat galangan kapal dalam negeri tidak hanya memberikan keuntungan bagi pengusaha galangan kapal. Menurutnya, hal tersebut akan melahirkan efek berganda (multiplier effect) ke perekonomian nasional, termasuk ke pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
“Galangan kapal bisa dapat order. Ekonomi sekitar, kaki lima atau warteg bisa dapat (pemasukan), pekerja-pekerja, dan nanti industri besi baja," tegasnya.

