Jokowi Minta Lifting Minyak Jangan Turun, Devisa Negara Jadi Korban
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan tegas meminta kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk meningkatkan lifting minyak nasional.
"Saya titip yang berkaitan dengan lifting minyak, harus naik dengan cara apa pun. Karena begitu produksi turun, uang yang dikeluarkan kita besar sekali," ujar Jokowi saat ditemui di Kempinski, Jakarta, Kamis (10/10/2024).
Jokowi menerangkan, jika lifting minyak mengalami penurunan, negara harus mengimpor lebih banyak untuk memenuhi konsumsi dalam negeri. Berdasarkan data tahun 2023, impor minyak mentah Indonesia menembus 297 juta barel.
Impor minyak yang besar ini disebabkan oleh konsumsi minyak nasional yang mencapai 505 juta barel. Sementara itu, produksi minyak nasional hanya 221 juta barel.
Jokowi mengungkapkan bahwa dirinya juga telah mendapat peringatan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk mengupayakan peningkatan lifting minyak. Pasalnya, jika lifting minyak terus mengalami penurunan akan membuat devisa menjadi korban.
"Karena kalau kita hitung kelihatannya kecil, turun 100 turun 50. Tapi kalau dihitung ke uang berarti impor minyak kita atau gas kita itu ratusan trilliun yang harus kita keluarkan. Artinya devisa kita hilang," jelas mantan Walikota Solo tersebut.
Maka dari itu, Jokowi meminta kepada para pemangku kepentingan untuk mengupayakan berbagai cara untuk membuat lifting minyak nasional menanjak. Termasuk salah satunya adalah membuat sumur-sumur minyak yang idle kembali produktif.
"Sumur yang kita miliki produktifkan. Entah itu dikerjain sendiri, entah itu dikerjain BUMN, entah itu dikerjain Pertamina, entah itu kerja sama dengan sektor swasta, entah itu dikerjain dengan perusahaan asing. Semuanya dilakukan. Jangan sampai lifting minyak kita biarkan turun seliter pun," tegas Jokowi

