Gapki: Tingkatkan Campuran Minyak Nabati di Ketahanan Energi, Kerek Produksi CPO Dulu
JAKARTA, Investortrust.id – Tingkat ekspor produk crude palm oil (CPO) Indonesia diperkirakan akan berkurang menjadi 28 juta metrik ton per tahun jika pemerintah menerapkan peningkatan bauran energi biodiesel 30 persen (B30) menjadi menjadi B40. Biodiesel B30 adalah produk hasil pencampuran 30% biodiesel dengan 70% bahan bakar minyak jenis solar.
“Tetapi apabila nanti dinaikkan kembali bauran (energi fosil dan biodiesel) menjadi B50, maka ekspor kita akan turun lagi menjadi 24 juta ton, dengan catatan kondisi seperti saat ini saat produktifitas tak ditingkatkan,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) periode 2023-2028, Eddy Martono saat bincang-bincang dengan CEO Investortrust.id, Primus Dorimulu di Mataram, Sabtu (28/9/2024).
Disampaikan Eddy, penurunan ekspor produk CPO Indonesia dipastikan terjadi jika para pelaku industri perkebunan sawit di Tanah Air tak mampu meningkatkan produktifitasnya. Porsi ekspor akan turun karena pemerintah bakal memperbesar alokasi produksi CPO ke domestik untuk bauran energi di dalam negeri.
Berdasarkan catatan Gapki, ekspor produk CPO dan PKO (palm kernel oil) mengalami penurunan 2,38% dari 33,15 juta ton di tahun 2022 menjadi 32,21 juta ton di tahun 2023. Sementara itu ekspor untuk biodiesel dan oleokimia mengalami kenaikan masing-masing sebesar 29 ribu ton dan 395 ribu ton.
Nah, soal peningkatan porsi bauran energi dari biodiesel telah disampaikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang akan meluncurkan campuran Bahan Bakar Minyak (BBM) yakni yang Bahan Bakar Nabati (BBN) yang berasal dari tetes tebu (bioetanol) dan minyak sawit (biodiesel) dengan konsentrasi campuran 40% (B40) pada tahun 2025 mendatang.
Baca Juga
HIP BBN Biodiesel Agustus 2024 Naik Jadi Rp 12.382 per Liter
"Kita udah mulai masuk ke B35 Insya Allah tahun depan B40 udah bisa jalan, sudah ada kesepakatan. Kemudian juga kita akan coba nanti bietanol," jelas Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam paparan di Kantor Ditjen Migas Kementerian ESDM, Jakarta medio Mei 2024 lalu.
Soal peningkatan bauran bahan bakar dengan minyak sawit ini, Eddy berharap diikuti oleh peningkatan produksi CPO. Jika tak diikuti dengan peningkatan produktifitas, maka pangsa ekspor Indonesia akan berkurang, dan akan berimplikasi pada berkurangnya besaran devisa yang bisa disumbangkan dari industri sawit.
“Kita sekarang sebagai penghasil devisa terbesar kedua setelah batu bara , jangan sampai justru devisa akan hilang di satu sisi digantikan (konversi dan bauran energi) sampai dengan B100 misalnya. Harus imbang, devisa tetap naik, tetapi energi hijau juga meningkat,” kata Eddy.
Ia pun berharap ketika program campuran bahan bakar fosil dengan minyak sawit ini telah mencapai kategori B50, pemerintah harus kembali mengkaji seberapa besar porgram tersebut ikut berdampak pada devisa dari komoditas sawit.
Baca Juga
Bos Pengusaha Sawit Beberkan Biang Kerok Penurunan Ekspor CPO Indonesia
“Jadi menurut saya seharusnya nanti sampai di B50 itu sudah kita stop dulu, kita lihat kondisi. devisa kita bagaimana. Itu pun dengan catatan (diterapkan) B50, apabila produksi kita mencukupi,” ujarnya.
Eddy menyampaikan keprihatinannya perihal produktifitas komoditas sawit yang dinilai masih relatif rendah dibandingkan negara produsen sawit yang saat ini menjadi pesaing Indonesia, yakni Malaysia. Dikatakan Eddy, sejauh ini rerata produksi CPO domestik masih di kisaran 3 juta ton per hektare. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat produktifitas CPO dari lahan rakyat yang sangat rendah, yakni di angka 2 ton per hektare. Sementara itu porsi lahan perkebunan milik rakyat cukup signifikan, yakni sekitar 6 juta hektare dari total 16 juta hektare lahan perkebunan sawit di Tanah Air.
“Kalau memang pemerintah nanti akan menaikkan kembali (porsi campuran minyak nabati) untuk ketahanan energi, untuk energi hijau, saran kami sebaiknya ditingkatkan dulu produktivitas dan produksi, itu utamanya,” tegasnya.
Ekspor CPO sejauh ini telah memberikan kontribusi positif pada ekonomi negara dengan nilai ekspor sebesar US$23,97 miliar di tahun 2023, dan menyumbang 33,72% devisa negara.

