PGN Akui Banyak Masyarakat Belum Mau Beralih ke Jargas karena Masih Ada Gas Melon
BANDUNG, investortrust.id - Pemerintah Indonesia tengah mendorong program jaringan gas untuk rumah tangga (jargas) sebagai salah satu upaya mengurangi impor liquefied petroleum gas (LPG). Namun begitu, ternyata masih banyak masyarakat yang belum berminat beralih ke jargas.
Senior Expert Regional Sales SOR II PGN, Yudi Arianto menyebutkan, banyak masyarakat yang masih memilih menggunakan tabung gas LPG 3 kg atau ‘gas melon’ yang merupakan barang subsidi karena harganya lebih murah ketimbang jargas.
“Terkait dari sisi keminatan komersial, karena kan hari ini masih ada pilihan juga di masyarakat. Artinya masyarakat punya pilihan menggunakan tabung LPG melon dan sebagainya, itu kan juga tantangan tuh,” ujar Yudi kepada Investortrust dalam sebuah acara di Bandung, Jawa Barat, Selasa (24/9/2024).
Meski LPG 3 kg sejatinya hanya diperuntukkan bagi masyarakat ekonomi bawah, namun Yudi melihat banyak juga kalangan masyarakat mampu yang menggunakan produk subsidi tersebut. Sebab, LPG 3 kg masih dijual bebas di pasar.
Baca Juga
Jargas Diharapkan Kurangi Impor LPG hingga 83,5 Juta Kg per Tahun
“Mereka masih punya kemudahan untuk beli tabung melon itu di pasar. Nyatanya hari ini gas melon itu seharusnya untuk masyarakat miskin, namun siapa pun bisa beli,” beber dia.
Maka dari itu, penyaluran LPG bersubsidi tepat sasaran dinilai Yudi sangat penting untuk bisa mengakselerasi implementasi program jargas ini. Dengan demikian, masyarakat akan mulai beralih menggunakan jargas.
Senada dengan Yudi, Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development di Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra Talattov juga menilai masih belum tepat sasarannya penyaluran LPG bersubsidi menyebabkan minimnya minat masyarakat menggunakan jargas.
“Dari sisi harga, jargas ini kan relatif lebih mahal dibandingkan LPG yang subsidi. Kalau dibandingkan dengan LPG non-subsidi, memang betul jargas ini lebih murah. Tetapi kan yang menjadi permasalahan klasik adalah, LPG subsidi sampai sekarang ini kan masih didistribusikan secara terbuka,” kata Abra saat dihubungi Investortrust.
Baca Juga
Pemberian Subsidi LPG 3 Kg dalam Bentuk Uang Dinilai Bakal Lebih Tepat Sasaran
Menurutnya, syarat paling utama untuk bisa mendorong penggunaan jargas adalah dengan perubahan mekanisme penyaluran LPG subsidi, dari yang dijual terbuka menjadi tertutup. Dengan demikian masyarakat menengah ke atas tidak punya celah untuk membeli LPG bersubsidi.
“Sehingga ketika mereka membandingkan antara LPG non-subsidi dan jargas, pasti mereka secara rasional akan menggunakan jargas. Jadi memang ini yang menjadi masalah utamanya, di mana pendistribusian LPG 3 kg belum juga dilakukan secara tertutup,” ujar dia.
Pemerintah sendiri sejatinya sedang mengupayakan agar penyaluran LPG subsidi bisa lebih tepat sasaran. Salah satunya adalah dengan mengeluarkan aturan, di mana pembelian LPG 3 kg wajib menggunakan KTP.
Tidak hanya itu, pemerintah juga berencana mengubah skema pemberian bantuan subsidi LPG. Jika selama ini pemberian subsidi berupa pengurangan harga produk tabung LPG 3 kg, maka akan diubah menjadi pemberian uang tunai ke masyarakat yang membutuhkan.
“Saya pikir apa pun bentuknya nanti, mekanisme subsidi LPG itu, tapi memang jumlah targetnya dibatasi gitu. Saya pikir itu pasti akan secara inline mendukung upaya untuk memperluas alternatif penggunaan jargas,” terang Abra.

