Usai Tech Winter, Diskon dan Cashback Tak Lagi Strategi Startup Digital, Ini Sebabnya
BADUNG, investortrust.id - Tech winter atau masa sulit perusahaan rintisan (startup) berbasis teknologi mendapatkan dana mulai berakhir. Sejumlah perusahaan startup ini bisa kembali agresif berekspansi atau memperluas pasarnya.
Salah satu cara yang lazim digunakan oleh perusahaan rintisan berbasis teknologi untuk memperluas pasarnya adalah menggunakan strategi “bakar uang”. Strategi ini biasanya berbentuk beragam program promosi hingga potongan harga besar-besaran.
Tujuannya jelas, untuk menarik minat banyak orang menggunakan produknya, baik barang maupun jasa. Tentunya strategi “bakar uang” sifatnya sementara dan belum tentu akan menghasilkan keuntungan di masa depan.
Baca Juga
Ratusan Startup dan Venture Capital "Dijodohkan" di NextHub Global Summit 2024
Chairman Nexticorn Foundation Rudiantara mengatakan, investor yang menanamkan modalnya di perusahaan rintisan setelah tech winter orientasinya sudah berubah. Bukan lagi berlomba-lomba meningkatkan skala pasar dan valuasi, seperti sebelumnya.
“Sejak tech winter, uang murah atau uang gratis tidak ada. Orientasinya yang tadinya kepada pertumbuhan dan valuasi sekarang sudah berubah,” katanya ketika ditemui di sela-sela gelaran NextHub Global Summit 2024 di Renaissance Bali Nusa Dua Resort, Badung, Bali, Senin (23/9/2024).
Pria yang menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) periode 2014-2019 ini menyebut bahwa oritentasi investor saat ini mengarah pada perusahaan rintisan yang berpotensi menghasilkan keuntungan secepatnya. Indikasinya yang paling mudah adalah arus kasnya positif dan profitabilitas atau EBITDA.
“Industrinya lebih sehat, beberapa bulan ke depan atau tahun depan uangnya ada industrinya jadi lebih sehat dan bisnisnya berkelanjutan atau sustainable,” tegasnya.
Baca Juga
Menkominfo: Peluang Startup Sektor Pertanian dan Perikanan Masih Terbuka Lebar
Pada kesempatan yang sama, Menkominfo Budi Arie Setiadi mengatakan pemangkasan suku bunga acuan yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) dianggap menjadi akhir dari tech winter.
Menurut Budi Arie, suku bunga yang melambung tinggi dalam beberapa tahun terakhir membuat investor menahan diri untuk berinvestasi di sektor riil, tak terkecuali investasi ke perusahaan rintisan. Mereka akan melirik instrumen investasi berbasis bunga seperti deposito dan obligasi.
"Kalau di Amerika Serikat (AS) katakan (suku) bunga (acuannya) 5%, mana mau orang investasi, taruh saja uangnya di bank, begitu. Kalau (suku bunga) diturunkan 3% jadi ada tantangannya. Mulai mengeluarkan investasi di sektor-sektor yang bisa berkembang," katanya.
Sebagiamana diketahui, pekan lalu BI memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan atai BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 6%>. Kemudian, The Fed juga memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 4,75-5,0%.
Baca Juga
Saat ini, menurut Budi Arie terdapat 2.500 perusahaan rintisan di Indonesia yang bergerak di berbagai sektor. Sebanyak 22 di antaranya diketahui sudah berhasil mencapai angka valuasi lebih dari US$ 1 miliar atau dikategorikan sebagai unicorn.
Jumlah unicorn tersebut belum bertambah sejak 2022 atau awal dimulainya tech winter. Diharapkan dengan mulai berakhirnya tech winter akan lahir unicorn baru di Indonesia yang diharapkan dapat meningkatkan kontribusi ekonomi digital terhadap produk domestik bruto (PDB).

