Top! Devisa Sektor Pariwisata Capai US$ 7,46 Miliar di Semester I-2024, Lampaui Target Tahunan
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencatat nilai devisa yang diperoleh dari sektor pariwisata mendapai US$ 7,46 miliar atau Rp 113,69 triliun (kurs US$/Rp 15.240) sepanjang semester I-2024.
Jumlah tersebut berhasil melampaui target batas bawah yang ditetapkan oleh Kemenparekraf sebesar US$ 7,38 miliar-US$ 13,08 miliar hingga akhir tahun ini.
Perolehan devisa pariwisata pada paruh pertama tahun ini juga meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 6,09 miliar.
“Perolehan devisa telah mencapai US$7,46 miliar dengan nilai tambah ekraf (ekonomi kreatif) diestimasikan mencapai Rp749,58 triliun,” kata Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Angela Tanoesoedibjo dalam acara Wonderful Indonesia Outlook 2024/2025: Sustainable Thriving, Impactful Striving yang disiarkan melalui kanal YouTube Kemenparekraf pada Kamis (19/9/2024).
Baca Juga
Menparekraf Minta Pembahasan RUU Pariwisata Tidak Terburu-Buru
Menurut Angela, pencapaian perolehan devisa sektor pariwisata pada semester I-2024 menunjukkan bahwa sektor pariwisata dan ekonomi kreatif bukan hanya mampu bertahan di tengah kondisi global yang dinamis.
"Tetapi kami akan terus melangkah maju menyongsong Indonesia yang lebih kompetitif dan berkelanjutan,” tegasnya.
Lebih lanjut, berdasarkan Expert Survey Outlook Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) 2024-2025, pertumbuhan pariwisata ke depan akan ditentukan oleh stabilitas ekonomi dan pengembangan destinasi yang berkualitas dan inovatif.
Angela menyebut tren di sektor pariwisata mengarah pada perjalanan yang berkesadaran dan berdampak.
Baca Juga
Harga Emas Antam Lompat Rp 13.000 Jadi Rp 1.443.000 per Gram
“Wisatawan akan cenderung mencari pengalaman yang menginspirasi, memunculkan trip like a local atau mengeksplorasi destinasi wisata lewat aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh warga setempat,” ujarnya.
Menyikapi tren tersebut, menurutnya ada dua hal yang tidak dapat diabaikan yaitu keberlanjutan dan teknologi. Menurut Angela, sektor pariwisata yang berkelanjutan sebenarnya bukan disiapkan menjadi pilihan bagi wisatawan, akan tetapi diposisikan sebagai kebutuhan yang diutamakan.
“Di sisi lain, perkembangan teknologi perlu dipandang bukan sebagai substitusi, melainkan peluang baru dan penunjang dalam menuju sektor pariwisata yang berkualitas dan berdaya saing,” pungkasnya.

